_ Untuk bekas pacarku

Telah kusiapkan kartu undangan, kasih,
Buat pernikahan kita
Kartu undangan yang kudesain dari
Lembaran hikayat
Kutulis dengan tinta emas, permintaanmu
Lalu kububuhkan sekelopak mawar
Yang kupenggal dari taman hatiku
Tak lupa kuikat benang yang kupilin dari
Helai rambutmu
Lihatlah !, indah bukan ?
Tapi aku tak mau keburu
Karena masih belum rampung kutulis alamat
Juga namamu
Dua musim mungkin terlalu lama
Tapi katamu jua, dua jam sudah tak sabar
menunggu
lalu kau terdiam sambil menghisab purnama
tak biasanya kau kupas waktu, seperti itu
merendam senyum di bibir biru
menelan liur yang selalu dimuntahkan
padahal seingatku dulu,
senyumu selalu berpendar di sekujur ruhmu
tak kenal kutukan waktu
itulah yang menyeretku membalas
tatapan bola matamu, yang paling indah
sesaat kau amblas, dan siluet senyumu membekas
hingga saat ini tak dapat kupangkas
meski kupinjam petir yang menggelegar dari
sarung pedang sayyidina ‘Ali
ah….. aku tak ingin banyak air mata
berjatuhan
yang jelas di meja kamar  ini, masih kurampungkan
kartu undangan,
Kartu undangan yang kudesain dari
Lembaran hikayat
Kutulis dengan tinta emas
menulis semua alamat
juga namamu
biarpun di sebelah cermin,
sudah ada kartu undangan yang lain
untuk nama yang lain

malang, 5 agustus 2005