Tinggal beberapa hari lagi “pekik merdeka” dari panggung-panggung, jalan-jalan dan berbagai acara seremonial baik di tv maupun acara live diberbagai pelosok daerah akan segera usai. Itu menandakan gebyar hari kemerdekaan juga akan berakhir. Secara umum kita sebagai bangsa telah sukses untuk memperingati hari kemerdekaan ke 63 yang jatuh pada tanggal 17 agustus 2008 tersebut.

Setidaknya riuh setiap penonton dalam semua event (lomba-lomba) juga geriap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan telah membuktikan betapa masyarakat masih berantusias terhadap “hari kemerdekaan” sebagai wujud nasionalisme terhadap suatu tata kehidupan bersama dalam sebuah sistem bernegara dan berbangsa yang disebut bangsa dan negara INDONESIA.

Namun demikian fenomena perayaan tersebut belumlah menjadi manifestasi yang hakiki dari sebuah peringatan. Mengingat hari kemerdekaan tidaklah sekedar moment sederhana bak pesta panen padi yang digelar oleh masyarakat. Melainkan sebuah perayaan yang sarat makna. Lantaran hari kemerdekaan terkait erat dengan siklus sejarah yang padanya nasib bangsa dan negara ini ditentukan.

Dari sudut pandang budaya, jelas mempunyai efek global dalam konteks ke-Indonesia-an. Setidaknya kemeriahan dan kegeriapan tersebut dapat dijadikan sebuah parameter kekuatan batin sekaligus simbul keesaan dari berbagai kemajemukan nilai yang terus tumbuh subur. Di sisi lain, hal ihwal tersebut melahirkan pencitraan baru baik bersifat positif maupun negatif. Dan pada gilirannya akan berubah menjadi identitas bangsa dan negara. Oleh karenanya instropeksi dan evaluasi tetap dibutuhkan dalam menuju tatanan yang lebih baik dan beradab.

Kata “peringatan” secara harfiah bisa dimaknai sebagai moment untuk mengingat kembali. Tentu makna tersebut sangat terkait erat dengan pertanyaan “apa yang diperingati?”, bagaimana memperingatinya?” dan untuk apa diperingati?”. Dari dimensi historis barangkali sudah dapat dipastikan bahwa sebuah “peringatan” mempunyai tendensi psikologis, sehingga secara emosional tergerak untuk memperingati, baik hal yang diperingati baik maupun buruk. Oleh karena itu kata “peringatan” bila diturunkan akan bisa bermakna mengenang kembali, mengambil i`tibar(revitalisasi), muhasabah (instropeksi dan evaluasi), bersyukur, tajdid(pembaharuan dari yang ada menuju yang lebih baik) dan lain sebagainya.

Dari makna-makna tersebut setidaknya dapat digolongkan menjadi tiga bagian penting yaitu; 1) mengigat kembali, 2) bersyukur, 3) tajdid(pembaharuan). Sehingga berbagai aktifitas peringatan dalam event apaun setidaknya mengandung tiga makna tersebut di atas. Taruhlah sebuah contoh atas budaya pesta panen padi yang diselenggarakan oleh masyarakat tradisional di berbagai belahan nusantara, makna yang terkandung adalah bahwa mereka mengadakan pesta lantaran telah berhasil dalam bercocok tanam, sehingga rasa suka cita itu mereka luapkan dalam wujud pesta dengan harapan tahun-tahun selanjutnya akan selalu diberkahi dengan panen yang melimpah. Biasanya dimulai dengan acara permainan dan pertunjukan musik lesung kemudian doa bersama dan memberikan sesajen sebagai bentuk sedekah kepada para leluhur. Semua kegiatan tersebut merupakan manifestasi dari ketiga makna peringatan di atas.

Tak jauh beda prosesi peringatan hari kemerdekaan yang diselenggarakan oleh masyarakat kita sekarang ini. Bahkan ada yang lebih istimewa dari berbagai acara-acara yang lain yaitu adanya panggung musik dari berbagai aliran, yang terkadang cenderung mereduksi dari ketiga makna di atas. Dan bahkan lebih dekat dengan poya-poya kalau tidak patut dibilang penghianatan terhadap para leluhur yang menggagas dan meletakkan batu pertama kemerdekaan dengan darah dan air mata.

Satu bukti yang tak dapat diingkari, bahwa ketika upacara bendera dilaksanakan dan lagu Indonesia raya dikumandangkan bisa dibandingkan antara tentara veteran dan warga Indonesia pada umumnya, termasuk disini para petinggi negeri ini. Betapa hikmat dan totalitas penghayatan oleh para veteran kita, bendera menjadi lambang bangsa yang sangat sakral dan lagu Indonesia raya ibarat mantra yang mampu menghipnotis suasana. Sementara pada gilirannya warga kita terutama yang muda-muda upacara laiknya kegiatan seremonial dan rutinitas, sama sekali tidak memberi bekas pada lubuk hati mereka. Selesai upacara dan memperingati hari kemerdekaan kembali jingkrak-jingkrak, masa bodoh dan semau gue. Hal yang sama oleh prilaku para petinggi yang kembali korupsi, aji mumpung, membuncitkan perut, tak lupa nge-lonte.

O,O…Sungguh fenomena maha ajaib.

Hmmm… para pembaca yang budiman… sebenarnya yang ingin saya katakan begini loo… ternyata ada kesenjangan historis plus filosofis terhadap peringatan hari kemerdekaan yang selama ini diselenggarakan. Dan asal-muasalnya adalah kedangkalan paradigma berfikir yang merembet pada proses penghayatan dan penghikmatan. Galibnya karena budaya pasca kemerdekaan di bangun pada tren instanisme, di samping kelengahan generasi birokrasi negara yang terlalu ekstase dalam kenikmatan kemerdekaan khususnya pada kampium politik-kekuasaan. Dan rasanya terlalu mustahil untuk mengahrapkan perubahan yang signifikan dari para birokrat-birokrat itu, karena merekalah yang sebenarnya menjadi akar masalah. Sebagai mana pepatah “segenggam kekuasaan lebih efektif dari pada segudang kekuatan”. Sedikit saja meleset dalam menggembalakan kekuasaan, bakal porak-poranda tatanan dan semakin jauh dari kemapanan.

Oleh karena itulah barangkali Tuhan menghadirkan moment penting dalam rangka muhasabah secara total dalam bingkai bulan Romadhan. sepertinya kita dianjurkan oleh Tuhan untuk lebih belajar untuk menjadi dewasa dalam kontek kehidupan sosial. Agar betul-betul siap menjadi mahluk yang sanggup mengemban rahmatan lil`alamin. Untuk menuju kemerdekaan, kemerdekaan yang tidak hanya bebas dari belenggu musuh-musuh duniawi tetapi juga musuh-musuh ukhrowi. Kita harus menyempurnakan kedangkalan spiritualisme peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 63 ini dengan kedalaman spiritualime batin melalui hari-hari penempaan pribadi, yaitu bulan Ramadhan.

Konsekuensinya mari bapak-bapak birokrasi, yang kemarin sibuk membuncitkan perut tahan dulu, kita berpuasa. Bagi mereka yang terbiasa korupsi tahan diri, kita puasa. Bagi yang suka nge-lonte pakek celanamu dulu, kita pergi ke masjid untuk tarowih. Bagi yang suka poya-poya, semau gue, jingkrak-jingkrak berhenti dulu, kita tadarus ayat-ayat suci. Kita puasakan pola pikir kita, paradigma hidup kita, dan kita puasakan sistem kehidupan sosial kita. Memang saya tidak berani menjamin setelah lebaran korupsi, ngelonte, pola pikir sesat, paradigma hidup melenceng akan berubah begitu saja, karena itu tergantung pada sejauh mana yang bersangkutan menyadari, menghayati, menginsafi dan niat yang bulan. Saya hanya bisa berdoa semoga hidayah bersama kita. Sehingga sedikit-demi sedikit kita bisa beranjak dari keterpurukan hidup, dan kembali dapat mengejawantahkan makna kemerdekaan yang sejatinya untuk menuju hari kebangkitan. Trim……