Salam…..

Dengan penuh kata maaf, kutunaikan niat

Menyambangimu. meski lewat sepenggal ucapan

Barang kali ini hanya kalimat yang terlambat

Atau sekedar rasa yang tertunda

setelah 12 purnama mengambang, entah di ruang yang mana

kawan…!,

14 maret adalah hari yang berarti bagimu

Dimana kau mulai belajar bersuara, menangis tentunya

Lalu kau kerdipkan matamu, seketika pecah senyumu

Menyapa kasih ibu dan dekapan abahmu

Saat itu pasti kau lucu

Meskipun aku yakin, tak banyak yang kau ingat tentang itu

Sementara matahari terus datang dan pergi

Mengantarkanmu menjadi bocah yang lugu

Dan “ayu”, setidaknya ini kata bapak dan ibumu

Meskipun barang kali ketika itu juga “umbelen”

Tetapi kau adalah kau …

Bukan kata bapak-ibumu, bukan kata siapa-siapa

Termasuk pula kataku

Seiring sabit alismu, sabit pula kedirianmu

Sebagai sosok perempuan yang terus berjalan pada

Selembar riwayat yang bernama HIDUP

Kau singgahi musim tawa, musim air mata

Tanpa rasa “kapok” karena memang sejatinya hidup

tak lekang dari dua mahluk yang ghalibnya disebut “senang dan sedih”

ia laksana sepasang pengantin yang abadi

sepanjang tempat dimana kita berpijak masih bernama “BUMI”

dan membiarkan mereka mencumbui siang dan malam,

itu lebih menyengangkan…

Hingga suatu ketika, kudapatkan bening matamu di bilik sempit hatiku

Yah… hari minggu itu telah mempertemukan kita sebagai kawan

Minggu itu aku telah beroleh seorang kawan

Kawan yang sampai saat ini kukenang

Dan tak dapat kulupakan

Atas nama “kawan”, izinkan kuucap kalimat

Selamat Ulang Tahun ”

Entah ini ulang tahunmu yang keberapa..,

Entah sudah berapa kali kaulalui musim-musim tawamu,

musim-musim air matamu..

Harapanku, semoga Tuhan selalu bersamamu

Menuntunmu pada kota dimana cahaya CINTA ada di sana

Biarlah kenangan semakin tua, karena impian masa depan

kan senantiasa remaja

Karena hanya dengan impian dan cintalah kita akan selalu hidup

Sebagai kawan

Aku hanya ingin melihat kau tersenyum

Wassalam

Kawan

Malang, 17 03 07/ 01.00 WIB