by: Masaly

 A. Pedahuluan

Sebagai intelektual muslim kita mempunyai tanggung jawab besar terhadap kelangsungan peradaban Islam di masa mendatang, namun untuk mengambil sikap secara kongkrit hal ini tergantung sejauh mana kita mampu menyikapi peradaban dan kebudayaan Islam yang lalu dan kini. Sebagaimana kata T.S. Eliot “Masa Kini dan Masa Lampau akan muncul di Masa Depan dan Masa Depan terdapat di Masa Lampau”.1 Dimensi sejarah sangatlah penting, yang darinya kita mampu menentukan di sisi yang mana kita harus berpijak dan selanjutnya menetukan arah mana yang akan kita garap. Saking pentingnya, seorang Iqbal menggolangkan sebagai salah satu bentuk sumber keilmuan. Beliau mengatakan bahwa sejarah adalah sejenis gramafon besar yang di dalamnya suara bangsa-bangsa terekam. 2

Dalam konteks peradaban umat manusia, -secara periodik- Islam telah hadir lengkap dengan nilai-nilai universalnya dalam upaya memberikan pencerahan terhadap umat manusia pada kurun waktu yang panjang, yakni mulai dari zaman Rasulullah sampai sekarang dan pada ruang yang amat luas yakni mulai dari Mekah sampai hampir seluruh belahan dunia. Dalam perjalanan sejarahnya peradaban Islam sering kali mengalami pasang surut, baik dalam bidang keilmuan, sosial budaya, agama, ekonomi khususnya politik-kekuasaan. Untuk dapat memahami dan menelusuri spesifikasi-spesifikasi khazanah tersebut perlu pembabakan beradasarkan periodesasi historis. Secara sederhana para ahli membagi kedalam tiga babakan, yaitu: periode klasik, pertengan dan modern. Lebih lanjut Ira M Lapidus dalam karyanya A History Of Islamic Societes membagi sebagai berikut: pertama, periode awal peradaban Islam di Timur Tengah (Abad VII-XIII M). Kedua, periode penyebaran peradaban Islam Timur Tengah ke wilayah lain atau era ”penyebaran global masyarakat Islam (abad XIII-XIX M). Ketiga, periode perkembangan Modern Umat Islam (abad XIX-XX M).3

Dalam berbagai pembahasan peradaban Islam terjadi simpang-siur yang terkait dengan perbedaan antara peradaban dan kebudayaan, oleh karena itu penulis perlu memberi batasan-batasan agar dalam pembahan ini sampai pada tujuannya yaitu ”Merefleksi peradaban Islam; dulu, kini dan esok”.

Kata peradaban (Indonesia) sering kali absurd dengan kata kebudayaan. Dalam bahasa Inggris peradaban digunakan istilah civilization, sedangkan kebudayaan digunakan istilah culture. A.A.A. Fyze menjelaskan bahwa civilization berasal dari kata Civies atau civil, yang mempunyai arti menjadi kewarganegaraan yang maju. Sehingga dalam hal ini peradaban mempunyai dua makna yaitu: (1) proses menjadi beradab (2) suatu bentuk masyarakat yang sudah maju yang ditandai dengan gejala kemajuan di bidang sosial-politik, seni-budaya dan teknologi. Adapun kebudayaan lebih bersifat sosiologis dan antropologis. 4 A. Hasjmy mendefinisikan Kebudayaan sebagai bentuk manifestasi akal dan rasa manusia.5

Demikian pula dalam bahasa Arab dibedakan antara kata staqofah(kebudayaan), tamaddun(peradaban), dan hadlorah(kemajuan). Abdullah ’Ulwan memberi pengertian Hadloroh sebagai berikut:

الحضارة هي انتاج الانسان المدني الاجتماعي بخصائصه الفكرية والروحية والوجدانية والسلوكية تحقيقا لاهداف أمته، وما ارتضته هذه الأمة لنفسها من قيم ومثل ومبادئ.

Definisi ini mengandung dua pengertian yaitu: (1) bahwa Al-Hadlorah merupakan jalan hidup yang dengannya umat manusia merasa nyaman dalam segala aspek kehidupan baik jiwa, sosial-politik, ekonomi dan materi dengan berdasar pada nilai-nilai yang kongkrit. (2) bahwa peradaban mempunyai aspek-aspek yang jelas yaitu; fenomena kemajuan secara matrial dan fenomena keagungan nilai-nilai.6 Elias dalam karyanya Uber den Prozessder Zivilisation mengatakan bahwa proses peradaban berarti transformasi tingkah laku dan persepsi manusia dalam arah yang amat jelas.7

Dari paparan di atas penulis berusaha mempertegas perbedaan antara kebudayaan dan peradaban dalam konteks ke-Indonesia-an melalui pedekatan filosofis sebagai berikut:

 

Ontologis

Epistemologis

Aksiologis

Kebudayaan

Peradaban

Kebudayaan

Peradaban

Kebudayaan

Peradaban

  • Hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia sebagai entitas masyarakat

  • Hasil dari cipta,karsa dan rasa manusia sebagai entitas masyarakat

  • Lebih bersifat sosiologis-antropologis

  • Nilai bersifat parsial

  • Scubnya lebih sempit (lokal)

  • Bersifat statis

 

  • Melalui proses yang relatif singkat

 

  • Lebih bersifat idiologis/politis

 

  • Nilai bersifat universal

  • Scubnya lebih luas (global)

  • Bersifat dinamik

  • Melalui proses yang lebih lama

  • Sebagai jalan atau cara hidup

  • Obyeknya mencakup bidang sosial, ekonomi, politik, ilmu, sastra, seni dan teknologi dll.

 

  • Sebagai jalan atau cara hidup

  • Obyeknya mencakup bidang sosial, ekonomi, politik, ilmu, sastra, seni dan teknologi dll.

 

B. Kilas Balik Sejarah

Pereode klasik merupakan awal pembabakan peradaban Islam. Pereode ini dimulai ketika Rasulullah diangkat menjadi rasul. Dalam pereode ini terdapat tiga fase penting yaitu; pertama, fase penciptaan komunitas baru sebagai hasil tranformasi nilai-nuilai Islam yang semula berbentuk kesukuan menjadi masyarakat bercorak Islam. Dalam fase ini Rasulullah mulai membangun sosial masyarakat dengan berazazkan al-ikho’ (persaudaraan), al-Musawah (persamaan), al-Tasamuh (toleransi), al-Tasyawur (musyawarah), al-Ta’awun(saling menolong) dan al-‘Adalah(keadilan). Embrio format negara Islam berkecambah sejak Rasululllah hijrah ke Madinah. Bidang garapannya adalah sosial masyrakat, politik, ekonomi dan peribadatan. Seluruh bidang tersentralisasikan pada masjid.8 Pasca Rasulullah wafat kepemimpinan dilanjutkan oleh para kholifah. Pada masa ini terjadi banyak pengembangan sekaligus perubahan baik dalam bidang, sosial masyarakat ekonomi terutama bidang politik, pada masa ini pula embrio ilmu pengetahuan dan sastra Islam yang terinspirasi dari al-Quran serta arsitetur muncul. Seperti adanya ijtihad hukum syariah pada masa Umar dan kondifikasi al-quran pada masa Usman yang dibarengi munculnya ilmu-ilmu kebahasaan dan bacaan Al-quran. Pada masa inilah fase kedua dimulai, dimana nilai-nilai Islam dijadikan sebagai dasar institusi kenegaraan dan elit perkotaan.9 Sedangkan fase ketiga yaitu peranan masyarakat Islam dalam mengubah mayoritas masyarakat Timur Tengah menjadi komunitas kokoh berlandaskan monotheistik. Ciri yang paling menonjol adalah terjadinya ekspansi kekuasaan bani Umayyah yang meliputi Spanyol, Afrika Utara, Timur Tengah sampai ke perbatasan Tiongkok. Dalam catatan sejarah keberhasilan ini melebihi kekuasaan yang dicapai Romawi pada masa kejayaanya.

Perubahan menonjol dalam bidang politik pada masa Umayyah I adalah bahwa sistem pemerintahan menganut faham monarchi heridetis (kerajaan turun temurun) dari persia dan kekaisaran Byzantium, yang sebelumnya menganut faham “demokrasi”. Hal yang sama di bidang sosial kemasyarakatan dimana struktur masyarakat dan keanggotaanya berbeda dengan zaman Nabi. Jika pada zaman Nabi keanggotaan masyarakat berdasarkan religiusitas yaitu muslim dan non muslim sedangakan pada masa ini terdiri dari bangsa Arab dan Mawali(bangsa selain Arab yang telah masuk Islam dan menjadi pendukung bangsa Arab) serta Ahlul zimmah(non muslim yang dalam berada dalam perlindungan orang muslim). Pada masa ini pula terjadi gerakan Arabisme. Penguasa Daulah ini berambisi membangun bangsa Arab sekaligus masyarakat muslim. Usaha yang ditempuh antara lain membuat akte kelahiran berbangsa Arab bagi masyarakat di tanah taklukan dan mewajibkan berbahasa Arab, termasuk menyalin peraturan-peraturan tertulis dengan bahasa Arab.10 Dalam bidang militer dibentuk Al-jund (AD), Al-Bahriyah(AU) dan As-Syurtoh(kepolisian). Dalam bidang ekonomi dibangun pelabuhan di Basroh untuk memperlancar perdagangan ke Tiongkok. Dalam bidang kerajinan kholifah Abdul Malik membangun pabrik-pabrik tekstil. Begitu juga dalam bidang seni lukis dan arsitektur, terdapat banyak lukisan beraliran hellenisme dan dibangun masjid Damaskus yang sangat menawan pada masa kholifah Walit.

Demikianlah kekuasaan Islam pada masa Bani Umayyah I yang berpusat di Damaskus dengan corak Monarchi dan mengandalkan panglima-panglima dari lapisan aristrokat yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan kebijakan-kebijakan Nabi dan para kholifah sebelumnya, namun demikian kemajuan peradaban mulai berkembang disegala bidang kehidupan.

Hal serupa ketika kekuasaan Daulah Umayyah pindah ke bagian Eropa Timur Andalusia (cordova). Bahkan pada masa Al-Nasir terjalin hubungan kerja sama antara masyarakat Islam dan pihak-pihak non Islam, seperti raja Otto dari Jerman(334/945), kerjaan Perancis, Italia dan kaisar Bizantium(911-959). Hal ini terbukti ketika Bizantium memberi sumbangsih berupa pembuatan mihrab masjid Agung Cordova.11

Anggota masyarakat pada masa ini lebih majmuk dibanding struktur masyarakat pada masa sebelumnya, yang terdiri dari bangsa Arab, penduduk asli Spanyol, kaum Barbar, Yahudi dan golongan Slavia. Pada pemerintahan Ad-Dakhil cordova disulap menjadi ibu kota yang elok permai. Banyak didirikan istana-istana lengkap dengan taman dan kolam tak ketinggalan masjid. Salah satu peninggalan monumental yaitu masjid jami’ Cordova didirikan tahun 170/786 yang sekarang menjadi gereja setelah ditaklukkan oleh Fernando III (1236).12

Gambaran kemajuan Andalusia dapat dilihat dari data statistika; jumlah penduduk ± 500.000 jiwa, sedangkan rumah penduduk ±13.000 bangunan belum termasuk istana, 300 pemandian umum dan 3000 buah masjid. Dapat dibayangkan hampir sekitar 4-5 rumah mempunyai masjid dan setiap pemandian terdapat 43 orang. Diantara peningglannya pula al-Qasr al-kabir, al-Rushfa, jembatan Cordova, al-Zahra dan al-Zahiro.13

Tidak hanya bidang arsitektur saja, perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat. Bahasa Arab dipelajari oleh setiap lapisan masyarakat. Kata Dozy (dikutip oleh Salaby) bahwa orang Spanyol telah melupakan bahas Latin hingga mereka tidak dapat membaca kitab suci mereka. Di Kota Cordova dan Toledo ketika masa Alfonso VI(1065 M tak jarang orang-orang Nasrani lebih fasih berbahasa Arab dari pada orang Arab asli. Puncaknya pada permulaan abad IX menurut Syalaby mengutip keterangan Nicholson bahwa bahasa Arab sudah menjadi bahasa resmi di Andalusia. Menunurut Philip K. Hitti bahwa sebelum bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari lebih dahulu bahasa Arab mencapai kemenangan dalam bidang keilmuan.14

Banyak para ilmuwan Andalus yang pergi ke ulama timur sebelumnya. Seperti dalam ilmu fiqh terkenal nama Abu Bakar muhammad(w. 422/1031) juga Ibnu Hazm(w.455/1063) dengan karyanya al-fashl fi al-milal wa al-ahwa fi al-nihal. Dalam ilmu filsafat tokohnya yaitu al-Jabili (347/952), dalam ilmu astronomi dikenal nama Abu Qosim Abas Ibnu Farns. Dalam ilmu kedokteran ada Ahmad Ibnu Iyas al-Qurtuby, dan dalam ilmu sejarah ialah Yahya Ibnu Hakam. Dan masih banyak lagi sederetan nama yang masyhur dalam bidangnya. Yang menarik dalam hal ini adalah bahwa setiap ualam mempunyai kaemampuan interdisipliner. Seorang filsuf sekaligus sastrawan ahli astronomer, dokter, teolog dan sebagainya. Prestasi gemilang ini tidak diraih dengan tiba-tiba melainkan kerja keras yaitu menyalin berbagai macam literatur yang beda bahasa, persi, ynani, india dll, disamping ada harmonisasi kerja sama antara penguasa, hartawan dan ulama. Walhasil bahwa ketika masa ini hampir tidak ada orang yang buta hurup di Andalusia. Dan dapat dikatakan bahwa umat Islam tidak hanya berperan sebagai jembatan penghubung warisan budaya lama dari zaman klasik ke zaman baru melainkan pencipta teori-teori baru yang sangat berguna bagi pengembangan keilmuan dan peradaban selanjutnya.15

Setelah panggung kekuasaan Daulah Umayyah direbut oleh Bani Abas (750) dan ibu kota dipindahkan ke Bagdad budaya keilmuan terus dikembangkan hingga mencapai puncaknya. Dibawah pemerintahan Abu Abas gerakan penterjemahan manuskrip-manuskrip berbahasa asing terutama Yunani dan Persia. Pada masa ini pula didirikan perpustakaan-perpustakaan umum yang besar-besar seperti Baitul Hikmah oleh al-Makmun yang tidak hanya sebagai pusat keilmuan tetapi juga sebagai pusat observasi . dalam bidang filsafat terkenal nama Al-kindi, al-farabi,Ibnu Bajah, Ibnu Taufil dan Ibnu Rusyd yang mampu mentransformasikan pikiran-pikiran dengan contoh, metafor, analogi dan imaginatif. Lahir pula empat mazhab besar yang sampai sekarang dianut oleh seluruh lapisan umat muslim di dunia. Mazhab Hanafiah oleh Abu Hanifah(w. 767), mazhab malikiyah oleh Malik Ibnu Anas( w. 795), mazhab Syafi’iyah oleh Muhammad Idris As-Syafi’i(w. 820) dan mazhab Hambaliyah oleh Ahmad Ibnu Hanbal(w. 855).

Selain bidang keilmuan bidang ekonomi juga berkembang pesat hal itu terlihat pada sektor perdagangan yang telah menjalin kerja sama dengan Cina. Banyak produk pertanian yang di ekspor ke Cina di samping produk tekstil. Di bidang telnologi, industri kertas patut menjadi rujukan bagi seluruh dunia. Sehingga taraf kehidupan sosial masyarakat lebih mapan. Kesuksesan bidang enomomi tidak terlepas oleh posisi bagdad sebagai penghubung antara dunia timur dan barat.

Tak kalah pentingnya adalah terciptanya stabilitas politik yang relatif kondusif sehinmgga mampu menghantarkan Abasiah pada zaman keemasan peradaban Islam. Sejak naiknya Abu Abas ke tampuk kepemimpinan reformasi politik adalah misi pertamanya. Karena di akhir kepemimpinan Daulah Umayyah banyak terjadi penyelewengan, terutama kebijakan politik yang cenderung mengarah pada sekulerisasi, jauh dari nilai-nilai agama, korup dan memihak sebagian kelompok. Dengan berdalih menegakkan idiologi keagamaan Abu Abas mengadakan propaganda-propaganda ke suluruh lapisan masyarakat. Kontan saja progarm ini di dukung oleh pihak-pihak yang termarjinalisasikan, seperti kaum kawarij, syiah dan mawali. Gerakan inilah yang menghantarkan Bani Abasiyah mampu menciptakan zaman keemasan peradaban Islam. Namun setelah 112 tahun mengasai percaturan politik, tepatnya pada masa Mutawakkil(850) terlibat perang saudara yang terus berkelanjutan sehingga Daulah Abasiyah kehilangan citranya dan akhirnya runtuh di tangan bangsa Mongol Tartar(1258) tamat sudah riwayat Abasiyah yang megah.

Dengan lumpuhnya Bagdad kekuatan-keuatan Islam menyebar di berbagai belahan dunia. Pada masa inilah menurut Marsal G.S. Hodgson digolongkan masa pertengahan awal(945-1258) 16atau pereiode penyebaran global Masyrakat Islam abad XIII-XVIII.

Pada periode penyebaran global ini Islam bukan hanya menjadi agama masyarakat Timur Tengah, melainkan juga telah menjadi agama masyrakat Asia Tengah, Cina, India, Asia Tenggara, Afrika dan Masyrakat balkan. Proses penyebaran Islam ditandai dengan interaksi nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai budaya masyrakat setemapat. Dalam pereode ini pula berlangsung konsolidasi ketiga kerajaan besar dengan beberapa negara di Asia Tenggara, Afrika dan wilayah lain. Masing-masing sistem kekuasaan Islam mendasarkan kehidupan peradabannya pada keyakinan, kultur, dan institusi sosial Islam yang berinteraksi dengan organisasi kemanusiaan, sistem produksi dan pertukaran ekonomi dengan bentuk-bentuk kekeluargaan, kesukuan dan dengan etnis non Islam atau kultur pra Islam.

Selanjutnya peradaban Islam dititipkan pada tiga kerajaan besar yaitu Pertama, kerajaan Turki Usmani(1300). Setelah kalah menghadapi serangan Ingris, kelompok oposisi Turki memaksa harus mengadakan reformasi sehingga lahirlah nama Turki Muda(1860) dan akhirnya dibawah kekuasaan Mustafa Kemal At-Tartuk(1922) melakukan perubahan-perubahan radikal Turki yang menganut sistem Khalifah menjadi Republik parlementer, sebuah pembaruan dari westernisasi ke sekularisasi. Kedua, kerajaan Mogol di India(1526-1857) yang berkuasa selama ± 3 abad. Pada tahun 1600 Inggris datangdengan motif berdagang yang berujung adanya perlawanan. Akhirnya terjadi perang tiga serangkai Islam, pihak Inggris dan kelompok Budha yang sebelumnya telah mengadakan pemberontakan kepada kerajaan. Setelah India mendapatkan kemerdekaan Pasca PD ke II terjadi disintegrasi, yang menyebabkan Kaum muslimin membentuk negara Pakistan dengan 6 Propinsi. Seiring dengan itu berdiri negara-negara Islam sekitar India yaitu Bangladesh, Srilangka dan Kepulauan Maladewa. dan ketiga, Safawi di persia (Iran)(1501-1732) yang sebelah selatan jatuh di tangan Rusia dan sebelah Utara jatuh di tangan Turki Utsmani.

Dengan tamatnya ketiga kerajaan Islam ini berarti keberadan Islam sebagai institusi negara telah habis selanjutnya Islam diambil alih oleh kerajaan-kerajaan kecil yang tak punya pengaruh kuat dalam menciptakan peradaban Islam seperti sebelumnya bahkan setelah ada campur tangan bangsa Eropa banyak kerajaan-kerajaan tersebut yang berubah menjadi negara kesatuan yang secara politis tidak membawa bendera Islam. Kedatang imperialisme Eropa mengakibatkan peradaban imperium Islam secara umum merosot, karena terjadi kekacauan dan konflik internal keagamaan, kemunduran ekonomi dan kebangkitan ekonomi dan teknologi bangsa Eropa. Kondisi ini mendorong beberapa kelompok muslim mengadakan pembaharuan(abad XIX) melalui gerakan-gerakan modernisasi. Pengaruh dan kekuatan Eropa pada masing-masing wilayah berbeda sehingga pada gilirannya melahirkan keragaman tipe masyarakat Islam Kontemporer. Ciri menonjol dalam perkembangan peradaban masyarakat Islam periode ini adalah peradaaban yang merupakan produk interaksi anatar masyarakat Islam regioanal dengan pengaruh Eropa.17

Periode transformasi modern peradaban Islam secara garis besar dapat di bagi menjadi tiga fase, yang sekaligus memperlihatkan beberapa gambaran umum yang berlaku diseluruh kawasan muslim.

Fase pertama, merupakan periode antara akhir abad XVIII sampai awal abad XX, yang di tandai dengan hancurnya sistem kenegaraan muslim dan dominasi teritorial dan komersial eropa. Dalam fase ini elite politik, agama dan kesukuan masyarakat muslim berusaha menetapkan pendekatan keagamaan dan idiologi baru bagi perkembangan internal masyarakat mereka.

Fase kedua, yaitu fase pembentukan nasional yang berlangsung setelah perang dunia I sampai pertengahan abad XX. Dalam fase ini kalangan elite negeri-negeri muslim berusah membawakan identitas politik modern terhadap masyarakat mereka dan berusaha memprakasai pengembangan ekonomi serta perubahan nasional.

Fase ketiga, ialah fase konsolidasi negara-negara nasional diseluruh kawasan muslim. Fase yang berlangsung sekitar pasca Perang Dunia II ini ditandai dengan pertentangan antara kecenderungan terhadap perkembangan yang tengah berlangsung dan peran utama Islam.

 

Dari kilas balik sejarah peradaban di atas dapat kita ambil perngertian bahwa pada masa pembabakan azaz yang dibangun oleh Rasulullah adalah nilai-nilai yang ditransformasikan dari Al-quran. Meskipun dalam konteks politik Rasulullah sebagi penguasa tunggal. Hal ini lebih dikarenakan tidak adanya figur yang mampu sebagai transmisi nilai-nilai al-quran. Sedangkan pada masa kholifah lebih bersifat demokratis-praktis. dan fase-fase selanjutnya bercorak monarki sebagai hasil dari pengaruh peradaban-peradaban sebelumnya. Disinilah sebenarnya ruh Islam yang diemban Nabi yaitu rohmatal lil’alamin telah hilang dan berujung pada kehancuran. Namun demikian sisi lain yang kita patut berbangga bahwa peradaban keilmuan dibangun mampu memberi sumbangan terbesar bagi peradaban umat manusia selanjutnya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita sebagai intelektual muslim mengembalikan peradaban Islam pada kondisi dimana Islam hanya sebagai dogma pribadi?

 

B. Membaca Hari Esok

Bertolak dari sejarah masa lalu yang kelam, sudah saatnya kita segara menyikapi dan menentukan sikap untuk merencanakan generasi masa depan yang lebih baik. Kalau tidak segera diambil langkah-langkah konkrit sistematik dan istiqomah maka besar kemungkinan generasi mas depan akan lebih parah, tragisnya apabila mereka kehilangan peradaban Islam baik secara fisik maupun maknanya. Kemampuan masyarakat muslim utuk menyaring pengaruh peradaban Yunani, Roma, Parsi India dan Cina dan memadukannya dengan nilai-nilai ajaran Islam adalah protet yang patut kita contoh. Sedangkan ciri yang mencolok mata dari masyarakat muslim masa kini yang gagal untuk menyamakan langkah dengan kemajuan masa kini haruslah menjadi pelajaran berharga untuk dapat kembali bangkit dari keterpurukan18. Sebagai langkah awal perlu dikembangkan konsep kesadaran baik sebagi individu, masyarakat, umat dan manusia secara universal. Pengembangan kesadaran ini dipandang penting karena dengan kesadaranlah kita dapat mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai tradisional yang merupakan jalan untuk mempertahankan lapisan penyekat sistem muslim.

Sifat pengemabangan kesadaran ini tergantung pada hirearkis. Kalau kita tidak mengembangkan kesadran tentang masa depan dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu mempengaruhi kesadaran masyarakat, bila demikian keadaannya kita tidak bisa berharap dapat mempengaruhi umat dan akhirnya kita tidak punya sistem kesadaran kemanusiaan secara universal.

Pengembangan diri banyak diwujudkan Iqbal dalam puisinya dengan kata Khudi. Hilangnya Khudi merupakan kehilangan yang paling menyedihkan. Menurut Iqbal masa depan orang muslim tergantung pada penemuan kembali diri mereka. Dengan demikian orang muslim akan dapat menunjukkan eksistensi kediriannya, seperti jika orang muslim menghadapi orang muslim akan bisa lebih lembut dari sutra. Dan jika harus berjuang membela kebenaran dia bisa berubah lebih keras dari baja. 19

Konsep kesadaran diri berasal dari ajaran Al-Quran “Tazkiyah” . Khursyid Ahmad mengetengahkan enam komponen tazkiyah, yaitu: dzikr, ibadah, taubah, sabr, muhasabah dan doa. Komponen-komponen nilai inilah yang akan memudahkan tumbuhnya kesadaran diri20. yang nilai-nilai ini tidak dimiliki oleh peradaban barat.

Disamping kesadaran diri yang kita butuhkan adalah kesadaran masyarakat. Konsep pengembangan masyarakat akan memainkan peranan penting dalam pengembangan alternatif-alternatif masa depan muslim. Tujuan akhirnya adalah membebaskan golongan-golongan miskin dilapisan bawah. Usaha ini untuk mengarahkan tiga cita-cita dasar, yaitu: kemandirian, pengembangan diri masyarakat dan pengembangan strategi-strategi yang selalu berubah-ubah untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan merangsang timbulnya kesadaran akan kondisi sosial serta tekanan politik.

Mempersatukan manusia, menumbuhkan semangat kerja, menciptakan solidaritas yang dinamis dan meningkatkan saling pengertian, semua ini adalah ajaran Islam. Adapun kesadaran umat pada hakekatnya merupakan realisasi ajaran-ajaran ini. Semangat yang dicontohkan Nabi ketika mensaudarakan kaum muhajirun dan ansor adalah bentuk kesadaran umat yang menjadi dasar peradaban Islam di Madinah21. Kesadaran inilah yang tidak ada pada masa-masa Nabi, sehingga muncul banyak kekacauan diantara sesama muslim. Karena modal dasar mereka dalam membangun peradaban melalui kekuatan dan kekuasaan untuh mengalahkan. Puncaknya adalah terciptanya kesadaran manusia dan dunia yang merupakan pesan akhir dari konsep sosial masyarakt dalam ajaran Quran. Dimana kemakmuran, keadilan, keamanan dan kedamaian dalam kontek untuk mengabdi dan kembali kepada Tuhan dapat dirasakan oleh semua lapisan manusia. Kasus kejahatan-kejahatan kemanusian yang di lancarkan oleh barat baik secara politis maupun teknologis terhadap umat muslim dunia yang menyebabkan mereka dalam kondisi terpuruk adalah salah betuk ketidak adanya kesadaran kemanusian. Ketika Iraq, dibombardir Amirika, Lebanon dihancurakan Zionis Israel dunia Islam tak mampu berbuat apa-apa. Oleh karena itu perlu digalang pengembangan kesadaran muslim mulai diri sendiri, masyarakat, Umat dan manusia global.

 

C. Langkah-langkah

Langkah yang harus kita tempuh adalah melakukan perencanaan-perencanaan secara sistematik dan simultan yang menyangkut sub sistem-sub sistem yang terdapat dalam sistem masyarakat muslim sebagai berikut: subsistem sosial, subsistem politik, subsistem pendidikan, subsistem ekonomi, subsistem imaji,subsistem komunikasi, subsistem teknologi,subsistem informasi dan subsistem kebijaksanaan. Semua subsistem harus bergerak secara berkesinambungan dan saling terkait. Kemudian menentukan langkah-langkah pasti yaitu: (1) Relitas masa kini dari sistem; yaitu perencanaan mengambil lingkungan tertentu dengan latar tertentu dengan sangat memahami sumber-sumber yang ada, potensi dari lingkungan dan batasan-batasan latar tersebut kemudian memberikan penilaian. (2) masa depan logis dari sistem muslim; yaitu suatu proyeksi langsung dari kecenderungan-kecenderungan masa kini ke masa depan. (3) masa depan sistem muslim yang dinginkan; yaitu dengan menentukan visi misi masyarakat muslim yamg jelas yang didasarkan pada model negara madaniyah. (4) alternatif-alternatif masa depan muslim; yaitu menuliskan skenario-skenario terhadap kemungkinan-kemungkinan mengubah arah pergerakan.(5) perencanaan normatif jangka panjang; yaitu upaya mengartikulasikan cita-cita dengan tingkat kedalaman dan kecanggihan yang tinggi serta melewati proses mufakat. (6) perencanaan terpadu jangka menengah;di sini merupakan tahap bagaimana kebijakan-kebijakan dirumuskan, sumber-sumber dialokasi dan strategi-strategi ditetapkan untuk mencapai cita-cita. (7) perencanaan operasi; yaitu suatu tahapan yang di dalamnya tindakan aktual diambil.(8) tanggapan sistem; tahapan akhir yang didalamnya terjadi perubahan-perubahan terencana dan dikehendaki22.

Secara singkat bahwa langkah-langkah di atas merupakan upaya untuk reformasi oriented dalam kehidupan sosial budaya sebagai pijakan untuk menemukan kembali peradaban yang hilang.

 

Terima kasih…………!!!

 

DAFTAR PUSTAKA UTAMA

 

 

  • Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim. (Bandung, Mizan 1986) Terj dari The Future Of Moslim Civilisation, Croom Helm London 1979

  • Drs. Danusiri MA., Epistimologi dalam Tasawuf Iqbal. (Yogyakarta, Pustaka Pelajar 1996) Hal. 49

  • Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, terj. Ghufron A. Mas’udi. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999) jilid I, Hal ix.

  • Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, (yogyakarta, LESFI 2004)

  • Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta, PT. Bulan Bintang)

  • Abdullah ’Ulwan, Ma’alimal Hadlorah fi Islam, (Bairut Darus-Salam 1980)

  • Bassam Tibi, Krisis peradaban Islam Modern, (Yogyakarta. PT. Tiara Wacana 1994)

  • Lutfi Abdul Badi’, al-Islam fi Asbani, (kairo maktabah an-nahdoh al-Misriyah, 1989)

  • Hitti, Dunia Arab, hal 168

 

 

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

 

  • Spiritual Islam dan peradaban masa depan, Yogyakarta, Sipperss 1996

  • Dr. Hasan Ibrahim, sejarah kebudayaan Islam, jild 1 dan 2. Jakarta kalam mulia 2003

  • Prof. S.I. poerdasisastra, sumbangan Islam kepada ilmu dan peradaban modern. Jakarta P3M. 1986

  • Dr. Fuad Muhammad Shibel. Kebudayaan Islam menurut Toynbee, Jakarta Bulan Bintang 1977

 

 

1 Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim. (Bandung, Mizan 1986) Terj dari The Future Of Moslim Civilisation, Croom Helm London 1979

2 Drs. Danusiri MA., Epistimologi dalam Tasawuf Iqbal. (Yogyakarta, Pustaka Pelajar 1996) Hal. 49

3 Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, terj. Ghufron A. Mas’udi. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999) jilid I, Hal ix.

4 Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, (yogyakarta, LESFI 2004)

5 A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta, PT. Bulan Bintang)

6 Abdullah ’Ulwan, Ma’alimal Hadlorah fi Islam, (Bairut Darus-Salam 1980)

7 Bassam Tibi, Krisis peradaban Islam Modern, (Yogyakarta. PT. Tiara Wacana 1994)

8 Maman A. Malik Sya’rani, Sejarah Peradaban Islam, hal. 30-32 (yogyakarta, LESFI 2004)

9 Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam,jild I hal. 14

10 Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal. 74 (yogyakarta, LESFI 2004)

11 ibid hal. 82

12 Lutfi Abdul Badi’, al-Islam fi Asbani, (kairo maktabah an-nahdoh al-Misriyah, 1989)

13 Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal. 86-87 (yogyakarta, LESFI 2004)

14 Hitti, Dunia Arab, hal 168

15 Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal. 93-95 (yogyakarta, LESFI 2004)

 

16 Machasin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 86-87 (yogyakarta, LESFI 2004) dikutip dari The Venture Of Islam vol.II Cicago Perss 1974.

 

17 Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, hal. 13 (yogyakarta, LESFI 2004)

18 Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim. Hal. 236-237 (Bandung, Mizan 1986) Terj dari The Future Of Moslim Civilisation, Croom Helm London 1979

19 ibid. Hal. 236-237

20 ibid. Hal 237

21 ibid hal. 257

22 ibid hal. 184-187