Gigil malam terus menggerus hitam langitku

Padahal musim dingin telah lama berlalu

Sedang di luar selembar hikayat mondar-mandir ditepis semilir angin

Menoreh desau yang pernah jatuh di sehelai daun tanpa embun

Sebelum akhirnya luruh bersama air mata pecinta

Tepat di jantung mimpi. Hingga pada saatnya

Sekelebat bintang membangunkan;

bahwa fajar telah hadir

Mengecambahkan mimpi. Mimpi tentang sebuah kehidupan

Yang kuberi nama “Kedamaian”

namun gigil itu

Telah membekukannya kembali dan hanya sisakan

Derit angin yang tak mampu lagi kukejar

Malang, 25 juli 2005