Hidup dan kehidupan ini laksana samudera dengan seluruh “hukum” riak dan gelombang-nya, yang mesti diseberangi oleh semua manusia. Ada saat-saat romantik sekaligus mengasikkan bagi manusia di tengah “pelayarannya”: ketika angin mendesir lirih menyapa kulit, layar dan kemesraan. Perahu terkembang merefleksikan alunan tembang yang dinyanyikan anak-anak rantau. Betapa mesranya. Namun bukanlah merupakan sesuatu yang tidak mungkin bila suatu waktu manusia mesti menghadapi angin puyuh yang terkadang sampai merobek layar dan kekaraman yang bisa datang tiba-tiba. Ngeri!
Metafor hidup memang warna-warni!
Berangkat dari realitas hidup yang serba variatif dan tak terlepas dari berbagai kemungkinan itulah Kanjeng Nabi Muhammad sebagai wujud resume dari seluruh semesta pepujian menyampaikan pesannya kepada umatnya lewatAbu Zar al-Gifari , agar mereka selamat mengarungi kehidupan dan kembali ke haribaan Akunya yang besar, Rabb Al-‘Alamin seraya Ridha dan diridhai.
Pesan Muhammad yang terdiri dari empat point itu jelas merupakan lentera penerang jiwa di tengah lorong-lorong kehidupan yang semakin terkabutioleh atmosfir noda-noda yang diproduksi oleh manusia sendiridari hari ke hari.
Pertama; “perbaharuilah perahumu karena samudera ini sangat dalam”.
Dalam menjalani hidup dan kehidupan di atas panggung maya pada ini dengan mengaplikasikan misi fitrah kholiqiyah yang berdimensi transendental, manusia mesti berhadapan dengan silang-menyilangnya koordinat “ekstrimis- ekstrimis” yang terus menerus silih berganti menarik dirinya: berbagai anugerah yang membawa kesenangan kerapkali menyeret dan menjebak manusia untuk mereduksi eksistensi dirinya yang holistik yang di “paketkan” Tuhan semula, sehingga terjermbab di tengah buih keluapan dan kubangan nestapa. Pada momentum ini manusia mentransfigurasikan kegagalannya untuk mentransendensikan berbagai anugrah tersebut, “mengembalikannya” kepada yang maha empunya: Gusti Allah. Demikian pula ketika dilanda bermacam kesulitan, kenelangsaan dan kesengsaraan yang merupakan ujian terhadap ketangguhan imannya, manusia seringkali “menciptakan” jalan buntu untuk tidak sampai pada tujuan yang sejati, yaitu tempat menyatunya awal dan akhir: Allah Rabbun Jalil.
Seperti halnya ketika manusia mengimplementasikan pertaruhan-pertaruhannya untuk mereguk keinginan-keinginanya yang disuarakan oleh gejolak syahwati yang tidak terdidik: tidak jarang mereka mendiskritkan dan bahkan menginjak ludes aturan main kehidupan yang tidak hanya berdampak destruktif terhadap kemanusiaan-nya sendiri, tapi lebih parah lagi bagi kehidupan masyarakat luas.
Kondisi syaitoniyyah sering terjadi di kalangan pemenang kekuasaan –baik di tingkat lokal maupun nasional- untuk merekrut keuntungan pribadi atau golongan tertentu. Kebutaan dan ketulian terhadap nasib orang lain telah merenggut mereka.
Itulah pemahaman saya terhadap puisi Muhammad: “samudera ini amat dalam”, yang badai dan gelombangnya terus menerjang manusia “untuk” berpasangan dengan maut kubro: suatu kematian yang tidak hanya menimpa jasadnya, tapi lebih merupakan wujud realitas ketercerabutan ruh kemanusiaan dan kehidupannya. Amat berbahaya.
Dengan demikian, maka adanya reformasi dan penyegaran terhadap syariat secara aplikatif yang diungkapkan dengan terminologi “perahu” dalam dunia sufistik sebagaimana pesan pertama Muhammad “perbaharuilah perahumu” merupakan keharusan kontinuitas bagi umat beragama –kaum muslimin secara spesifik- sehingga “stabilitas” perjalanan menuju Tuhannya tetap menyertai selama di atas arena pergulatan hidup. Karena saya sebagaimana juga mungkin anda, telah menyepakati bahwa syariat merupakan kontribusi Tuhan terbesar setelah nurani, yang keduanya diharapkan menemukan konfergensi baik pada tataran vertikal seperti ibadah mahdah maupun pada realita kehidupan sosial.
Istilah syariat di sini jelas tidak seperti yang terbayangkan dalam formulasi fiqih yang telah mengalami penyempitan dan bahkan distorsi. Teapi lebih merupak substansi dari “tawaran-tawaran” Tuhan lewat jalur para nabi dan rasulNya agar tercipta kedamaian, kehangatan dan kemakmuran dalam kehidupan.
Kedua: “persiapkanlah bekal yang banyak, karena perjalanan ini amat panjang”.
Semenjak bersentuhan dengan hidup, manusia berarti telah memasuki start pelepasan di arena perlombaan yang dicanangkan Tuhan yang berlaku sepanjang hayat: suatu “paket” kompetisi yang tugu finisnya merupakan barometer bagi keberhasilan dan kegagalan mereka merekrut bekal untuk kehidupan setelah kehidupan ini.
Istilah bekal di sini, tentu tidak menunjuk pada tumpukan uang atau materi sebagaimana yang dipergunakan seseorang ketika bepergian menuju negeri rantau, tetapi jelas memberikan aksentuasi kepada nilai dan hakekat perbuatan baik dan terpuji. Karena di alam akhirat kelak manusia “Cuma”menerima buah dari pohon kehidupannya yang ditanam di dunia sebagai konsekuensi logis. Juga secara esensial perjalanan hidup ini adalah perjalan ruhani. Bukan materi atau jasmani.
Dalam menempuh perjalanan hidup yang berkelok-kelok dan amat jauh ini, membawa bekal sebanyak-banyaknya merupakan suatu keharusan bagi manusia agar tetap dalam kondisi survive dan berseri ketika mau memasuki ruangan di pengadilan akbar: suatu pemeriksaan yang ultra ketat terhadap seluruh nilai perbuatan manusia yang digelar di hadapan Ahkamul Hakimin, Allah SWT.
Ketiga: “ Ringankanlah bebanmu, karena jalan mendaki ini teramat sulit dan melelahkan”.
Manusia dan seluruh kreasi Tuhan lain yang mewujud secara empirik di kehidupan ini adalah wujud nyata kerangka-kerangka yang bersemayam dalam diri-NYa di “zaman” azali. Semacam realitas percikan api yang dikeluarkan dari tubuhnya. Maka adanya manifestasi yang konkret dalam setiap perilaku dan sangkan paraning dumadi, la manja wala maljaa illa ilaika, merupakan tuntunan bagi manusia sebagai mahluk istimewa yang dipikuli amanah agar dapat kembali menyatu di pangkuanNya semula.
Siapapun yang berjalan di dunia spiritualitas, keberagamaan yang hakiki, mesti berpasangan dengan kemarung dan duri-duri kehidupan yang harus ditepis. Apalagi di era sekarang yang semakin dibanjiri hegemoni-hegemoni budaya destruktif yang mau menguburkan suara-suara ilahiyah yang bersumber dari jiwa. Kesucian yang merupakan partikuler cahaya Tuhan dalam diri manusia telah banyak diserimpung oleh nafsu materi dan kedudukan.
Betul-betul jalan mendaki yang tak semudah membalik tangan untuk melewatinya. Maka manusia yang menyadari posisi dirinya sebagai musafir menuju pertapaannya yang sejati: Allah, tidak akan menampakkan kedunguannya dengan menggendong beban yang berupa dosa-dosa untuk memberati dan merobohi dirinya sendiri. Mereka yang sebenarnya cerdas mesti membebaskan diri dari keterkaitannya dengan debu-debu maksiat yang menyendat langkah-langkahnya.
Dari sini kita dapat memahami, bahwa pelanggaran terhadap aturan yang digariskan Allah lebih menunjukkan indikasi kegoblokan ketimbang kejahatan.
Keempat: “Berikhlaslah dalam setiap perbuatanmu, karena zat yang membedakan antara yang haq dan yang bathil Maha melihat”.
Seluruh ajaran Islam pada intinya merupakan doktrin stimulatif bagi manusia untuk mengekspresikan kecintaannya kepada Sumber Segala cinta: Rabbul Jamali. Dari pemahaman ajaran tersebut, benih-benih cinta yang bersemi dalam cahaNya di relung jiwa manusia akan melahirkan prilaku-prilaku yang murni dan karenanya menjadi ikhlas.
Ikhlas adalah jantung dari segala perbuatan yang ditawajjuhkan kepada Allah SWT. Ikhlas adalah energi batinyiah yang sanggup memunculkan nilai-nilai substansial. Ikhlas adalah wujud nyata suara ruhiyah yang hanya berorientasi pada suatu arah: Allah SWT. Ikhlas adalah nur tauhidiyah yang kontradiktif dengan isyrak, yaitu pencampuradukan tujuan dalam berbuat.
Oleh karena itu manusia harus menyadari, bahwa semua tingkah laku akan menemukan posisinya di sisi Tuhan manakala telah tercuci dari sentuhan riya` dan sum`ah. Perbuatan manusia akan lolos di hadapan Tuhan hanya manakala bebas dari orientasi pamrih dari selainNya. Hanyalah perbuatan yang Allah Sentris yang akan menjadi pohon raksasa yang dapat dinikmati buahnya, berupa keteduhan batin dan ketegaran jiwa.
Di era konsumtivisme, industrialisme, hedonisme dan isme-isme lainnya sekarang ini, siapapun harus siaga dengan kuda-kudanya untuk menjernihkan metabolisme hati sebagai wahana pertarungan ketulusan dan kekeruhan kehendak. Karena sebagaimana kita sadari, betapa gejolak nafsu materialisme dengan seluruh ragam metodiknya telah begitu menjamur di panggung prilaku manusia. Betapa kecintaan terhadap kefanaan yang sia-sia semakin diperturutkan dan diumbar-umbar oleh bahasa gerak manusia. Jiwa yang merupakan cerminan dari wujud bayang-bayang Tuhan yang paling transparan semakin terhimpit langkahnya oleh keserakahan dimensi Iblisiyah manusia.

Wallahu A`lamu bish-Shawab

* Kuswaidi Syfi’I dinukil dari buku: “ Tafakkur Di Ujung Cinta”, dengan judul aslinya “Bekal Musafir Menuju Rumah Tuhan”