Saat Tahun Beralih*

Oleh budhi klaten

 

Refleksi tentang manusia dan waktunya dalam universum yang maha luas terbaca antara lain dalam sebuah puisi karya Ahmad Nurullah. Judulnya “Di tebing waktu: Meditasi”, dimuat dalam kumpulan sajak Bentara Kompas tahun 2000.

Beberapa lariknya berbunyi demikian: “sebelum jagat raya diciptakan, apa yang dilakukan tuhan? Sunyi. Di teras:waktu merayap. Malam mengalir. Aku duduk tapi melayang. Di langit berkeriap bintang-bintang. Dan di jala-jalan berkecipak perang. Seperti di hatiku. Mungkin juga di hatimu”.

Merenung tentang waktu akan membawa manusia pada persentuhan dengan jagat raya, malah dengan Tuhan. Waktu adalah ukuran usia, melontarkan Tanya perihal awal dan dugaan mengenai akhir segalanya. Pada kedua ujung itu orang akan dihadapkan sebuah pertanyaan:entahkah ada daya ilahi, yang terbebas dari awal dan akhir?

Selanjutnya Nurullah berbicara tentang seorang Stephen, maksudnya pastilah Stephen Hawking, si ahli fisika di atas kursi roda yang memeriksa alam dan isinya. Stephen mengajaknya melintasi universum. “ia lalu mengajakku perg. Jauh melayang;…berguling-guling dari galaksi ke galaksi… membayangkan serbuk tubuh presiden yang terguling. Di bawah telapak tangan kaki ku berhambur bermiliar galaksi. Bagai butiran biji kedelai yang terburai. Seperti kepingan biji mutiara yang bersemai di sudut-sudut waktu. Lihat, katanya , menunjuk sebuah titik yang berdesak si setumpuk cahaya. Apa arti kau ada?… lalu kembali mengajakku berputar. Berdiri di tebing waktu, menyapu kemahakuasaan ruang…//”.

Manusia di tebing waktu laksana kedelai yang terburai pada taburan miliaran galaksi. Apakah titik sekecil itu pantas punya arti, dan manusia mempunyai dasar untuk meyakini diri sebagai mahluk paling mulia? Waktu merayap, malam mengalir. Semuanya akan disorong masuk ke dalam jurang masa lampau. Hilang di sana?

Terseret arus waktu

Waktu mengalir tanpa bisa ditahan. Sangat sering arusnya yang deras membawa kita pergi tanpa terasa dan tersadar. Cuma sebentar saat kita angkat mata dan melihat suasana sekitar yang telah berubah, kita bergumam dan mulai menghitung, sekian waktu telah berlalu. Terkadang alirannya sungguh dirasa, dihitung dalam detakan paling kecil yang dapat diukur. Yang seperti itu kita alami ketika harus menunggu, entah menunggu seseorang yang telah menjanjikan kedatangannya, menanti keputusan yang amat penting, atau berjaga bersama seseorang yang sedang menghadapi maut.

Yang sama pun kita alami pada saat-saat

Menjelang tahun beralih. Kita menghitung waktu, seolah waktu tergambar jelas di depan kita bagai gelombang yang dating, mengempas waktu sekarang ke masa lalu, yang sedang ke dalam sudah, sementara yang baru menerjang sekat tipis pembatas waktu di depan dan saat sekarang.

Menghitung waktu, di dalamnya mengandung melankoli, serentak harapan. Waktu yang dialami dan dihitung secara sadar, menjadi waktu yang sangat intensif dan sungguh berharga. Pada saat itu muncul gugatan yang menusuk: betapa banyak kesempatan yang telah terlewatkan, berapa peluang sudah terabaikan untuk menyebutkan kata maaf, untuk memberikan tangan perdamaian, untuk mewujudkan niat yang pernah dibulatkan?berapa banyak orang yang nasibnya bisa diperbaiki kalau ada kejujuran dan tanggung jawab dalam jabata?

Waktu yang mengalir pergi menggemakan teriakan semua mereka yang telah dikorbankan oleh arogansi manusia dan dinginnya system yang tercipta. System ekonomi dan politik bisa sangat dingin terhadap manusia, bekerja menurut logika keuntungan dan penimbunan kekuasaan, lalu menunjukkan wajah yang bergeming di hadapan kemiskinan dan punya hati untuk membantu terhadap ketidak adilan. Yang terseret bersama arus waktu adalah mereka yang wajahnya sangat sederhana dank arena itu gampang disepelekan.

Arus waktu membawa pergi yang sekarang, namun bukan tanpa sisa. Waktu meninggalkan bau amis kejahatan pribadi atau bersama, yang tidak mau diakui secara sportif dan diselesaikan secara dewasa. Luka menganga yang tertoreh pada hati orang lain karena kelancangan atau pelecehan akan terus menyebarkan aroma tak sedapnya. Ketakacuhan takkan bisa membuat yang buruk jadi baik. Putusan politik yang memang hanya menguntungkan diri sendiri akan terus menjadi sumber bau yang busuk walaupun ada argumentasi bahwa itu adalah perintah undang-undang. Bangkai manusia yang telah dikorbankan dalam sebuah pengadilan yang sesat akan terus menguat, kendati ada dasar yang terdengar sangat mulia: demi penegakan hokum.

Namun waktu yang berlalu menyimpan dalam gelombangnya sejumlah prestasi yang diraih. Kesetiaan pada sebuah janji yang pernah diikrarkan, komitmen yang jelas terhadap tugas yang telah diterima dan sikap yang tegas menolak untuk ikut bermain dalam penyebaran isu yang menghancurkan citra orang lai, merupakan jejak-jejak pada alur waktu. Di dalam waktu terkandung sejuta kemungkinan dan peluang untuk berubah dan mengubah; banyak wajah dimunculkan dan teriakan diperdengarkannya, semuanya minta diperhatikan; segudang harapan dan niat ditawarkan untuk diwujudkan. Semua inilah yang menjadikan waktu sungguh berarti, kendati dibandingkan hanya dengan kedelai yang terburai pada lautan galaksi.

Tahun yang akan segera berlalu bukan Cuma sebuah angka: 2007. ada nama ada sejarah, ada kesedihan, luka dan kekecewaan. Ada pula kegembiraan dan suka cita, ada persahabatan dan persaudaraan yang ikhlas.

Hamparan peluang

Waktu yang mengalir bagai petak tanah kosong yang panjang membentang. Tugas manusia adalah memberi bekas pada tanah itu. Di depan kita terbentang tahun 2008. rentang waktu ini adalah hamparan peluang. Sebagai Homo Historicus, makhluk yang menyejarah, kita membawa diri yang sama ke tahun yang di seberang. Secara politis, tahun 2008 akan sangat ditandai oleh konsolidasi kekekuatan politis untuk menghadapi pemilihan umum 2009. Unfinished Business, tugas-tugas yang tak dibereskan, janji-janji npolitik yang terabaikan akan menjadi luka yang menganga dan borok yang membusuk. Sebab itu, konsolidasi politik akan dilakukan secara intensif pada tahun 2008.

Tahun yang baru akan dipenuhi dengan tebar pesona kekuatan-kekuatan politik. Bukan mustahil, sebagian yang ditawarkan itu sangat instans sifatnya. Yang diproduksi dalam waktu yang singkat biasanya tidak bertahan lama. Karena itu sebagai warga yang berkesadaran waktu, kita perlu mewaspadai semua produk politik yang dipresentasikan dalam keterdesakan waktu. Yang dibuat secara dadakan, meninggalkan bekas yang tidak bertahan.

 

 

* Sumber tulisan dari kompas, senin, 31 desember 2007