Tinggal nunggu terompet ditiup, perjalanan tahun ini(2007) ditutup. Lalu kita langkahkan kaki ke pintu tahun baru. Pintu yang belum kita tahu hendak kemana tangan kita akan dituntun. Akankah didalamnya kita jumpai seamsal purnama yang mengambang dipundak pantai, terhias semilir angin berparas kedamaian ? ataukah lorong sunyi yang tidak hanya membuat bulu kuduk kita merinding, tapi bahkan nyali kita menciut.

 

Sementara, sederet riwayat yang akan kita tanggalkan tak sepenuhnya menjamin kita untuk selalu dikenang. Bukan untuk orang lain tetapi juga diri kita sendiri. Oleh karena itu barang kali perlu kita tasbihkan kembali agar arah putar hidup ini kembali suci.

 

Cukuplah banjir, tanah longsor dan angin puting beliung menjadi ta`bir betapa bumi yang kita pinjam ini harus kita kembalikan dengan tak berubah dari wujud aslinya. Maka tak selayaknya jika kita mendaftarkannya sebagai hak paten kita. Yang terang-terang menjadi asal-muasal bencana. Betapa malunya kita jika dimahkamah hidup kita terbukti menjadi tersangka dengan dugaan penipuan dan manipulasi..?.

 

Saudara-saudaraku…

 

Bagi saya, fenomena tahun baru adalah momentum yang sengaja dicipta Tuhan, agar kita sebagai mahluk senantiasa bermuhasabah binafsi, selanjutnya bermetamorfose pada ranah kedewasaan baik berpikir, bersikap dan bertindak untuk menuju ruang-ruang jamaliyah (keindahan). Itulah sebabnya mengapa gejala-gejala alamiyah seringkali muncul pada akhir dan awal tahun. Mungkin karena kita sering lupa atau bahkan tak sadarkan diri. Lalu pertanyaannya haruskah dengan bencana untuk sekedar itu?, Atau karena kita yang terlalu lelap?

 

Akhirnya, marilah kita nyalakan kembang api cinta. kita bunyikan terompet dan genderang kasih. kita bagi-bagikan kembang sayang, agar disetiap tikungan jalan dan sudut-sudut kota anak-anak kita bisa membaca betapa kita telah menjadi bapak dari mereka.

 

Selamat tahun baru 2008 M.