Duhai zat, sarwa

 

sekalian alam. di hijau dan kuning

daun takdirMU serat-serat nasibku tersurat

bersemi dengan matahri, merindan bersama rembulan lalu

ranggas dan luruh diujung usia

disepanjang waktu yang belum sempat

kupahat amalat bagi ruhku bersujud di musim rehat

kini musti kutinggalkan

 

duhai zat, sarwa

sekalian alam. dibiru langitMU kugantungkan

harapan. Tentang sebuah kehidupan yang

hingga kini belum sempat terbayangkan

sesekali, pernah melintasi seperti kobaran

Wail. Sesekali itupula rubuh kecemasan

kecemasan akan sebuah keterpautan

keterpautan yang kian tak terfahamkan

 

sesekali, pernah melintasi seperti bayangan

sorgawy. Sesekali itupula tumbuh kenangan

kenangan yang menggelembungkan harapan

harapan yang kian menjauh

 

duhai zat, sarwa

sekalian alam. Di debur ombak lautMU kukubur

getah masa silam. Kemudian melayari garis-garis

nasib sendiri

seperti pada pertapaan Khidir, kubiarkan hidup mengalir

menuju dua pertemuan kata

dua pertemuan makna

dua pertemuan rasa

dua pertemuan cinta

 

Malang, 06 februari 2007