Dalam kontek pendidikan, adalah penting bagi kita untuk menjelaskan tentang pempelajaran bahasa ibu dan bahasa asing, serta kendala-kendala yang mempengaruhinya. Selanjutnya memfokuskan pembahasan pada karakteristik psikologis. dimana psikologis merupankan kekuatan pertama dalam mempelajarai bahasa terutama bahasa kedua. okelah pembicaraan kali ini kita awali dari dimensi pendidikan.

Pertama; Dimensi Pendidikan Dalam Pembelajaran Bahasa

  1. Bahasa Ibu

seorang anak memperoleh bekal bahasa komunikatif dan penggunaannya, sebelum ia masuk sekolah. Adapun setelah masuk sekolah ia belajar membaca dan menulis secara praktis dan khusus.

Di zaman modern kita ini, studi-studi bahasa lebih merhatikan bahasa lisan dari pada bahasa tulisan. Dan untuk membantu para guru dalam memperbaiki proses pengajaran bahasa ibu, hal yang terpenting untuk dilakukan adalah menjelaskan hubungan kedua fenomena tersebut.

Menurut para linguist (Horma, hal. 43-59, 1978), bahasa tulis adalah bahasa dalam bentuk resmi yang mempunyai karakteristik khusus, baik dalam kata maupun susunan kalimat. Sedangkan bahasa lisan adalah bentuk bahasa yang tidak resmi yang secara umum digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Terkadang bahasa lisan sama dengan bahasa yang pertama (bahasa tulis) dan terkadang berbeda. Diantara keduanya tak ada mana yang lebih baik derajatnya.

Adanya perbedaan kedua bentuk bahasa ini, berakibat munculnya perbedaan dialek-dialek yang tersebar di berbagai Negara dan kota. Baik dari sisi fonetik, struktur kata, kosa kata dan semantik. Juga adanya perbedaan dialek antar Negara atau kota, meskipun bahasa ibunya masih serumpun, sebagaimana terjadi pada kebanyakan bahasa sekarang ini.

Dengan kata lain, bahwa sebagian besar rumpun bahasa yang tersebar luas di penjuru dunia seperti bahasa Arab, bahasa Inggris dan Perancis tak satupun diantara bahasa itu kecuali ada dialek yang terpisah dari bahasa induknya.

Ragam dialek-dialek tersebut nampak jelas pada suatu jenjang pendidikan nasional, baik ditingkat pelosok, kota kecil maupun besar, atau bahkan pada penduduk di suatu kota dan strata sosiial masyarakat.

Heteroginitas dialek-dialek tersebut tidak mempunyai kontribusi positif pada kebijakan pendidikan dalam melestarikan dan menjaga unitas keberagaman umat berbangsa. Yaitu sebuah unitas yang menganggap penting adanya bahasa pemersatu. Inilah yang diserukan oleh suatu Negara untuk menggunakan bahasa persatuan sebagai bahasa ibu dan mengajarkannya pada siswa di sekolah dengan tujuan memperkenalkan anak dengan sesamanya dalam sebuah unitas bangsa dan budaya serta agama dalam skupnya yang lebih besar. Ketetapan ini bukanlah hal mudah untuk merealisasikannya bahkan terkesan mustahil.

Bagi bangsa Arab, bahasa Al-quran merupakan pemersatu terhadap Negara-negara Arab. Penduduk arab yang ditengarahi mempunyai tradisi budaya satu, menggunakan bahasa Arab fushah untuk fase pertama dalam pendidikan sebagai bahasa pemersatu di seluruh sekolah-sekolah di wilayah Arab. Hal itu merupakan faktor-faktor penting yang mendorong bagi terciptanya unitas generasi umat atau bangsa.

Dari sisi pendidikan, merupakan keharusan bagi seorang pendidik merasa bertanggung jawab terhadap pentingnya hal ini. Selain itu pendidik juga harus menyadari akan pentingnya menjalin kerja sama dengan sesama pendidik untuk mempereratkan generasi suatu bangsa untuk mempelajari bahasa ibu sebagai ganti penggunaan dialek-dialek yang beragam, bahkan hingga pada materi pelajaran.

Biasanya studi-studi bahasa modern yang diselenggarakan untuk para pendidik adalah studi perbandingan antara bahasa persatuan yang diajarkan oleh Negara pada generasinya dan bahasa local (dialek) yang berbeda-beda. Hal itu bertujuan untuk menemukan poin-poin perbedaan yang mendasar. Inilah yang seyogyanya diperhatikan oleh para pendidik.

Lebih dari pada itu, studi-studi bahasa modern membekali para pendidik mengenai arahan-arahan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa ibu, seperti berikut ini:

    1. Tidak ada ketentuan tunggal dalam pembahasan metode atau kurikulum bahasa.

    2. Pentingnya bahasa lisan serta perbedaanya dengan bahasa tulisan.

    3. Kaidah-kaidah bahasa lama(tradisional) tidak berlaku dalam bahasa praktis, bahkan kaidah-kaidah itu hanya merupakan penemuan oleh para linguist tradisional.

    4. Membekali pendidik dengan tema-tema psikolinguistik, terutama yang berkaitan dengan cara pemerolehan bahasa anak sebelum masuk sekolah.

    5. Mengkongkritkan metode pemahaman anak, terhadap hubungan-hubungan gramatikal(nahwu) antar kosa kata dan sebagainya. Sehingga anak mempunyai sistematika pemahaman baik secara universal maupun parsial terhadap susunan bahasa.

    6. Mengetengahkan hasil-hasil kajian bahasa modern dalam pembelajaran sastra dan bahasa ibu, baik terhadap prosa maupun syair, pidato dan cerita.

    7. Adanya studi analisis kebahasaan (bahasa ibu) untuk siswa kelas tinggi. Meskipun siswa tersebut baru bisa memperkenalkan dirinya sendiri, tanpa harus berpikir banyak tentang kaidah yang membelenggu bahasa tersebut. Kecuali pemahamannya terhadap kaidah itu sekedar untuk lebih membantu terhadap kesahihan bahasanya.

  1. Bahasa Asing

Pembelajaran bahasa asing berkembang mengacu pada pendapat yang berbeda-beda.(Horma, hal. 49-57, 1978) diantaranya sebagai berikut:

    1. Sejak pertengahan abad ini, telah nampak perhatian besar terhadap pembelajaran bahasa asing baik dari sisi metode pembelajaran, materi, sarana pembelajaran dan dasar-dasar bahasa.

    2. Sampai pada permulaan di abad ini, perhatian besar tercurahkan pada bahasa tulis. Nampak sekali kemampuan berbahasa yang ditekankan oleh berbagai lembaga pendidikan dalam proses pengajaran bahasa asing, yakni kemampuan membaca. Sebagaimana pembelajaran bahasa latin yang berkutat pada pengajaran kaidah-kaidah bahasa, kemudian siswa berlatih untuk membaca teks dengan bahasa tersebut, dan selanjutnya menerjemah bahasa tersebut kedalam bahasa ibu. Metode ini yang lazimnya disebut Grammar Translation Method (طريقة القواعد والترجمة).

    3. Pada permulaan abad ini pula, muncul gerakan khusus yaitu Direct Method(طريقة المباشرة) yang penemunya berhipotesis –dengan metode yang salah- bahwa siswa mempelajari bahasa asing dengan metode yang sama dengan pemerolehan bahasa ibu. Yaitu dengan memberikan kalimat dan ucapan dalam jumlah yang banyak dan terus-menerus tanpa adanya aturan, batasan, ketentuan atau sistem bahasa yang ia gunakan.

    4. Setelah itu, baru pada abad 30-an muncul metode yang mempelajari kalimat-kalimat yang lebih banyak beredar pada bahasa asing. Seperti dalam pembelajaran bahasa Inggris yang menggunakan buku-buku Micael Wesht “1000 kata”. Buku ini dijadikan patokan untuk menciptakan buku-buku bahasa Inggris di dunia, khususnya di Negara Comnulis yang dalam buku ini kemampuan membaca merupakan pondasi atau dasar yang harus dipelajari dan ditekuni oleh siswa.

    5. Sejak perang dunia kedua khususnya di USA, mulai memperhatikan bahasa modern dan lebih berkonsentrasi pada susunan bahasa dari pada penggunaan kosa kata. Untuk memenuhi hal itu didirikanlah sekolah Deskriptif-Formalis. Sebagai hasilnya adalah para ahli bahasa menerapkan teorinya tanpa perlu bantuan dari ahli pendidikan. Selain itu, juga mengenyampingkan faktor-faktor selain bahasa yang terdapat dalam dunia pendidikan. Fenomena itu nampak jelas khususnya pada abad 50 dan 60-an, yang senantiasa disertai perlawanan terhadap penggunaan dialog(hiwar) sebagai materi utama dalam pembelajaran bahasa asing.

    6. Berkonsentrasi penuh terhadap bahasa komunikasi dan dialog dengan memperhatikan fenomena phonetik yang tak pernah disentuh oleh bahasa tulisan. Serta penggunaan teknologi untuk membantu para guru dalam mengajar, salah satunya adalah penggunaan tape recorder.

    7. Dari sudut pandang psikologi prillaku bahasa merupakan entitas dari kumpulan kebiasaan yang mendorong adanya pemerolehan bahasa melalui Respon-Stimulus. Oleh karena itu para ilmuwan berpendapat bahwa penyampaian bahasa mulai dari bagian terkecilnya yang dituangkan kedalam contoh yang serupa dengan tujuan melatih pelajar untuk mendalami setiap bagian sampai batas tertentu. Kemudian latihan-latihan secara menyeluruh hingga siswa berhasil mempelajari semua materi.

    8. Dilakukannya studi perbandingan yang komprehensif antara bahasa ibu dan bahasa asing untuk menemukan letak perbedaanya yang paling mendasar.

    9. Setelah itu perlu ciptakan laboratorium bahasa yang merupakan media pembelajaran efektif sampai masa sekarang ini.

    10. Sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa, hendaknya menggabungkan antara spesialis pendidikan dan spesialis bahasa agar mencurahkan bidangnya masing-masing. Ahli pendidikan berkonsentrasi pada bidang praktis sementara ahli bahasa berkonsentrasi pada bidang teori dan konsep. Pandangan ini bertolak pada:

  1. Bahwa fenomena fonetik dalam bahasa (ucapan yang terucap) adalah fenomena yang paling mendasar.

  2. Bahwasanya bahasa bukanlah tradisi yang diupayakan.

  3. Bahwasanya bahasa adalah bahasa yang digunakan oleh manusia secara praktis dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan bahasa yang disampaikan oleh para ahli struktur bahasa yang berdasar pada kesahihan berbahasa.

  4. Tidak ada bahasa permulaan, tetapi setiap bahasa yang ada di bumi tersusun dengan bentuk yang konvensional, yang di dalamnya terdapat aturan instrinsik dimana bahasa itu mampu mewakili ucapan manusia yang menggunaknnya.

Dasar-dasar dan hipotesis-hipotesis ini diterjemahkan kedalam langkah kerja yang diperhatikan oleh fenomena bahasa lisan dan pembelajaran bahasa asing dengan menggunakan metode Audio Lingual Approach (الطريقة السمعية الشفوية) sebagaimana yang di hasilkan oleh buku diktat dan alat-alat atau media belajar.

Realitasnya, bahwa studi-studi terdahulu dari konteks psilogis telah menjadi dasar teori psikologi ini. Hal itu karena bahasa bukanlah kumpulan adapt-kebiasaan saja tetapi lebih merupakan sarana yang dikukuhkan oleh kaidah-kaidah tertentu yang perlu dibedah.

Meskipun Metode Audio Lingual ini berkembang pesat selama dua-tiga dasawarsa di penjuru dunia yang berbeda-beda, namun nampak adanya banyak kekurangan. Walaupun metode yang digunakan setelah itu, juga tak mencapai formatnya yang sempurna sampai sekarang.

k. Muara akhir dalam studi kebahasaan adalah keyakinan bahwa bahasa adalah sarana komunikasi. Begitu juga perhatian dalam pembelajaran bahasa asing harus berpijak pada kesahihan (Accuracy). Maksudnya kedalaman format/bentuk bahasa dalam fungsinya sebagai komunikasi. Atau dengan kata lain, pada kontek ucapan atau tulisan tanpa adanya kesalahan bahasa.

l. Arah atau tujuan yang dominan sekarang ini adalah upaya menyediakan bahan ajar yang berguna untuk dimensi social(Social Dimension) (Horma, 1978). Yakni meningkatkan kemampuan pelajar untuk berkomunikasi (communicative competence), dari pada kemampuan kebahasaannya (linguistic competence). Untuk merealisasikan tujuan ini membutuhkan seorang guru yang handal. Karena kemampuan berkomunikasi tak akan berhasil tanpa adanya seoarang ahli bahasa. Pada jenjang pendidikan dasar barangkali penerapan metode ini mengalami kesulitan, dan bila memungkinkanpun hasilnya akan namapak pada jenjang yang lebih tinggi. Karena siswa pada jenjang ini telah memperoleh dasar kebahasaan yang memungkinkan untuk penerapannya secara aplikatif.

Kedua; Dimensi Psikologi Khusus Dalam Pempelajaran Bahasa Asing

Dari sisi psikologis, tabiat manusia dipengaruhi oleh faktor psikologi(terutama pengaruh saraf) dan biologi. Factor ini sangat berpengaruh dalam proses belajar bahasa asing. Selain itu, manusia juga dipengaruhi oleh faktor intelejensia dan pendidikannya. Sebagai contoh motifasi dasar dalam belajar, baik belajar bahasa atau belajar berbagai ilmu pengetahuan yang lain sesuai jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut akan kami jelaskan sebagai berikut:

      1. Karakteristik neuro spikologis dalam belajar bahasa asing

Banyak sekali para pendidik di dunia modern ini yang mengajukan pertanyaan, terutama masalah umur yang cocok untuk memulai belajar bahasa asing. Akhir-akhir ini mayoritas pendapat cenderung untuk memulai belajar bahasa asing sejak umur dini, minimal sebelum baligh(pubertas), sesuai studi Anderson (hal.298-306, 1960), Kirsch (hal.399-400), Larew (hal. 203-206, 1961).

Pendapat-pendapat ini didasari oleh bahwa anak ketika belajar lebih dari satu bahasa pada masa dini, kemampuannya dalam meyerap bahasa lebih baik dari pada diusia dewasa. Pendapat ini juga menjelaskan memungkinkannya seorang anak mempelajari tiga atau empat bahasa asing dengan mudah -baik ucapan maupun kemampuannya- sebagaimana ia mempelajari bahasa ibu.

Pendapat-pendapat ini dikuatkan oleh para pemerhati-pemerhati bahasa dalam studi mereka. Al-Kindi (penfield, hal.201-214, 1959) salah seorang ahli bedah sarap menyatakan bahwa otak manusia setelah balig(dewasa) akan kehilangan plasticitinya. Oleh karena itu belajar bahasa setelah masa ini akan mengalami kesulitan.

Sisi lain, ada pendapat yang meragukan keberhasilan belajar bahasa asing sejak usia dini. Dengan dalih bahwa waktu yang dicurahkan untuk belajar bahasa asing diusia itu akan berpengaruh negative pada pembelajaran bahasa Ibu, sebagaimana juga akan berpengaruh pada pendidikan dan perkembangan otak anak. Inilah yang dalam teorinya mereka sebut Balance of effect, yang menjelaskan bahwa waktu yang digunakan dalam mempelajari bahasa asing akan sangat berpengaruh tehadap pembelajaran bahasa ibu (native language), sebagaimana pengaruh pendidikan -secara umum- terhadap perkembangan otak anak pada tahun pertama.

Dari sisi neuro physiology, ada studi tentang perberkembangan kemampuan otak secara aplikatif, disebutkan bahwa pada tahun ke sembilan sampai tahun ke dua belas seorang anak mampu memfokuskan dalam belajar berbicara A Specialist in learning to speack , oleh karena itu ketika seorang anak telah mencapai umur sekian akan mampu belajar dua atau tiga bahasa sekaligus secara baik.

Selain itu, ketika seorang anak semakin dewasa ia akan protek dalam belajar bahasa, karenanya seorang guru harus menyediakan kurikulum bahasa yang sesuai dengan kemampuan otak mereka baik laki-laki atau perempuan. Pendapat lain dari Dr. Blompeld, bahwa akan lebih bermanfaat jika menerapkan rencana kurikulum bahasa yang bertujuan mempercepat pembelajaran bahasa asing di tahun kedua, agar mereka dapat memahami bahwa mereka masih pada tahap pemula dalam mempelajari bahasa asing. Hal itu didasarkan bahwa mereka belum cukup umur, yang sesuai dengan perkembangan otak mereka. ada saatnya kematangan biologis pada akal sehingga dapat bekerja secara sempurna sebagaaimana cara kerja anggota tubuh mereka. (Blompeld, hal. 201-214, 1953).

Rumah mempunyai peran efektif dalam pembelajaran bahasa. karena di dalamnya ada aturan yang akan membangun perkembangan akal anak. Seorang ibu akan mudah untuk mendorong anaknya dalam mempelajari bahasa, namun demikian motivasi terbesar tetap ada pada diri anak itu sendiri.

Otak anak kecil masih adaptif atau fleksibel dalam menerima bahasa, sementara otak anak dewasa sudah terkontaminasi oleh visi-misi mereka, oleh karena itu kemampuan anak dewasa dalam mempelajari bahasa lebih rendah dari pada kemampuan seorang anak kecil.

Hal itu dapat dikukuhkan dengan sebuah analisa, ketika seorang anak -baik kecil atau dewasa- kembali belajar setelah proses operasi atau sakit yang dapat mempengaruhi organ untuk berbicara (otak bagian kiri), dalam batas tertentu mereka sama, tidak mampu untuk berbicara dengan baik. Namun anak kecil akan lebih mudah berbicara kembali setelah beberapa bulan, sementara anak dewasa hampir tak dapat berbicara dan stagnan kemampuan berbicaranya.

  1. karakteristik biologis dalam mempelajari bahasa asing

Jelaslah, bahwa mempelajari bahasa ibu bergantung pada mekanisme biologis anak Biological Mechanism. Mekanisme otak berkembang dalam jangka waktu yang singkat. Anak yang hingga beranjak pubertas (balig) belum dapat berbicara, maka akan mengalami gangguan berbicara dan menggunakan bahasa seperti manusia pada umumnya. Hal ini ditegaskan oleh pendapat Lennberg (Lennberg, hal. 216-252, 1966) dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Biologis Dalam Bahasa” bahwa bahasa ibu tak dapat diperoleh dengan baik selama anak dalam masa pertumbuhan hingga masa tua. Dan rentang waktu tersebut merupakan dimensi paling signifikan dalam psikologi bahasa.

Pendapatnya pula, bahwa batas pemerolehan bahasa pertama adalah saat usia mendekati pubertas (balig). Hal ini dapat diketahui pada anak-anak yang lemah intelejensianya. Ia nampak lemah dalam memperoleh bahasa hingga mereka sampai pada fase awal pubertas, akibat …… oleh karena itu ketika ia pada masa sulit(bicara) dalam permerolehan bahasa ia mempelajari bahawa ia dalam masa permulaan yang sangat terbatas oleh kekurangan dan kematangan. Hal ini akibat dari rendahnya adaptasi seorang anak sebagai pengaruh dari saraf psikologis anak.

Lennberg menegaskan akan penting dan saratnya lingkup sarap psikologis dalam pemerolehan bahasa asing melalui tabel yang memperjelas perkembangan bahasa, pemerolehan dan pengajaran bahasa ibu, dan bahasa asing. Sebagai berikut:

Bahasa

umur

Perkembangan bahasa

Bahasa ibu

  • 0 – 3 bulan

  • 4 – 20 bulan

  • 21 – 36 bulan

  • 3 – 10 tahun

  • Mengingau dan Merengek

  • Merengek dan menyusun kalimat

  • Memperoleh bahasa

  • Belajar beberapa struktur kalimat sederhana dan pengembangannya bergantung seberapa jauh pelafalan kata yang digunakannya

Bahasa asing

  • 11 – 14 tahun

  • Pertengahan pubertas hingga fase-fase berikutnya

  • Adanya kemampuan menggunakan bahasa asing

  • Merasa sulit dalam memperoleh dan mempelajari bahasa kedua, dan semakin bertambah umur akan semakin sulit

Dalam studinya Yeni-Komshian, Zubin dan Afendras (hal.288-305, 1968), menjelaskan bahwasanya seorang anak lebih memungkinkan kemampuannya untuk mengucapkan suara-suara bahasa asing dari pada anak besar. Studi ini telah sempurna memuat dua golongan individu mulai umur lima sampai duapuluh satu tahun. Serta eksperimen ini telah dilakukan selama tujuh jam yang memuat tentang dua tema perbedaan pembelajaran serta pelatihan bahasa asing. Namun demikian belum menunjukkan bukti yang konkrit.

Dari analisanya, bahwa anak-anak kecil yang hijrah bersama ayahnya ke Negara baru sebelum menginjak usia dewasa, akan mampu mempelajari bahasa dimana ia bertempat, serta menggunakannnya dengan baik melalui bahasa ucap masyarakat setempat, lebih-lebih dari kedua orang tuanya.

  1. Dimensi Pendidikan Dan Intelejensia Dalam Pembelajaran Bahasa Asing

Macmanara (hal.135-137, 1966) menegaskan, bahwa adanya pengaruh neuropsikologis dan kemampuan dalam mempelajari bahasa asing antara anak-anak dan orang dewasa. Macmanara telah menjelasakan pemikirannya dengan tujuh puluh bab mengenai pengaruh pendidikan dan intelejensia dalam pembelajaran bahasa.

Hasilnya, bahwa ada pengaruh seimbang antara anak-anak setempat dan anak-anak yang menggunakan atau mempelajari dua bahasa mereka. Pemahaman mereka terhadap kedua bahasa tersebut menjadi lemah dari pada anak-anak yang hanya berbicara dengan satu bahasa. Macmanara telah menjelaskan bahwa anak-anak Iralndia yang berbicara bahasa Inggris, 40 % dari waktu belajar mereka di sekolah-sekolah mereka belajar bahasa Irlandia, jelas mereka tidak akan sama -dalam hal menulis bahasa Inggris- dengan anak-anak Inggris yang tidak pernah belajar bahasa kedua, sebagaimana anak-anak Inggris tidak akan sama -dalam hal menulis bahasa Irlandia – dengan anak-anak Irlandia.

Yang jelas, bahwa banyak sekali eksperimen-eksperimen mengenai pembelajaran bahasa asing, yang saling bertentangan hasilnya. Sebab-musababnya adalah perbedaan situasi dan kondisi lingkungan eksperimen tersebut, disamping faktor-faktor internal lain seperti yang berkaitan dengan dunia pendidikan, social masyarakat dan psikologi.

Sesuai keputusan Unesco pada tahun 1963 -yang merujuk pada pendapat Stern- tentang pembelajaran bahasa asing atau bahasa kedua untuk anak-anak, bahwa pembelajaran bahasa pada usia dini adalah merupakan fase yang paling cocok dalam pembelajaran bahasa asing. Stern berpendapat bahwa:

  1. Pembelajaran bahasa secara umum merupakan hal penting dalam social masyarakat dan pendidikan.

  2. Pembelajaran bahasa haruslah sesuai dengan fase-fase perkembangan anak. Artinya tidak adanya pengaruh-pengaruh psikologis yang menghalangi proses pembelajaran bahasa asing.

  3. Dalam pembelajaran bahasa bukan berarti harus mencari umur yang tepat, hanya saja pada awal-awal tahun adalah waktu yang tepat untuk mempelajari bahasa.

Stern juga menambahkan, bahwa pembelajaran bahasa asing tidak hanya terbatas pada masalah sederhana yang menyangkut kurikulum, metode pembelajaran atau ketentuan psikologis yang cocok dengan umur anak, melainkan ada hal-hal penting lain khususnya yang menyangkut semangat dan kesiapan mental anak terhadap kontek sosio kemasyarakatan dimana ia belajar.

Stern telah menjelaskan dampak positif dan negatifnya dalam pemerolehan bahasa berdasarkan umur, sebagai berikut:

  1. fase kanak-kanak (umur 3-10 tahun)

  • Dampak positif:

    • Secara Neuropsikologis, fase ini sangat sesuai dengan cara kerja otak

    • Belajar lebih mudah dan efektif

    • Pada fase ini, muncul ucapan-ucapan baru yang alamiyah dalam berbahasa.

    • Masa-masa ini mempunyai pengaruh kuat pada masa-masa selanjutnya dalam ingatan berbahasa.

    • Pemerolehan bahasa pada fase-fase ini akan lebih awet digunakan

  • Dampak negative:

  • Adanya percampuran kebiasaan antra bahasa asing dan bahasa pertama (ibu)

  • Pemerolehan bahasa saat belajar pada fase ini belum sampai lubuk hati.

  • Waktu yang digunakan tak sebanding dengan hasil yang didapatkan

B. Fase pubertas (sejak umur 11 tahun – akhir SMP)

  • Dampak positif:

    • Pada umur-umur ini, nampak sekali kemampuan untuk merespon segala fenomena khususnya bahasa atau komunikasi budaya.

    • Pada umur ini individu mulai mampu memcapai level tinggi

    • Pada fase ini perkembangan intelejesia anak dan kemampuan mengingat sangat tinggi, bila dibandingkan dengan fase-fase sebelumnya.

    • Pada umur-umur ini tidak terjadi percampuran/kerancuan antara mempelajari bahasa pertama (ibu) dan bahasa kedua (asing).

  • Dampak negative:

      • Belajar bahasa pada umur-umur ini membutuhkan upaya ekstra keras dari pada fase-fase sebelumnya

      • Keberhasilan seorang anak tergantung pada kemampuannya dalam memahami semua pengetahuan

      • Adanya kecenderungan tidak siap untuk mengingat

      • Pengalaman pribadi yang kerap kali terjadi membuat materi-materi pengajaran baru tidak berarti

      • Biasanya terjadi tumpang tindih dalam metode dan studi yang bermacam-macam

C. Fase Pencerahan (setelah lulus kuliyah)

  • Dampak positif:

        • Pada fase ini focus pada tujuan belajar yang konkrit

        • Motivasi dalam belajar pada fase ini lebih besar

        • Kwantitas belajar lebih banyak dan waktu yang tersedia lebih sedikit

  • Dampak negative:

          • Waktu tak mencukupi untuk belajar

          • Disibukkan oleh tugas-tugas dan pekerjaan lain

  1. Motivasi dan pengaruhnya dalam mempelajari bahasa

Bilingual (penggunaan dua atau lebih bahasa) merupakan problem mendasar di dunia modern kita. Pada zaman-zaman terdahulu sebagian kelompok masyarakat antusias sekali untuk belajar bahasa ibu, dan menolak bahasa asing. (Jackobovitch, hal. 29-79, 1971). Hal itu disebabkan oleh fanatisme dan perseteruan antar Negara/bangsa, pencarian identitas budaya, perang ekonomi dan social budaya. Sebagaimana diketahui bahwa pembelajaran bahasa asing menjadi penting seiring pentingnya mempelajari budaya Asing. Menurut sebagian kelompok bahwa budaya asing ini tercipta sebagai bentuk penghancuran atas pengalaman/nilai budaya sebagian kelompok tersebut.

Studi-studi Lambert (hal. 358-368, 1963) yang dilakukan pada sepuluh tahun terkhir di universitas Machgil Kanada telah menunjukkan bahwa keberhasilan individu dalam berbahasa asing , secara bertahap berpengaruh terhadap prilaku individu bersangkutan. Dimana prilaku tersebut akan membentuk kultur bahasa dalam sebuah komunitas. Pemahaman dan sikap seorang guru akan menentukan keberhasilan pembelajaran bahasa yang diajarkannya. Sebagaimana sebagian kelompok masyarakat yang merasa risau/bingung ketika belajar bahasa asing. Dengan harapan mereka bisa menerima esesnsi kelompok lain, hal itu karena mereka tidak merasa diterima dalam dalam kelompok dan kebudayaan mereka yang berkembang di sana. Sementara di sana ada sekelompok lain yang semangat dan motivasi mereka dalam mempelajari bahasa mengacu pada kesenangan kultur social masyarakat mereka, dan berambisi untuk meletakkan budaya asing yang samasekali berbeda.

Realitasnya- bahwa meskipun ia berkompeten dalam mempelajari bahasa asing – ia senantiasa memperhatikan kondisi social aslinya (Original Group) dan di lain waktu ia juga senantiasa memperhatikan kondisi social masyarakat kedua.

Bertolak dari dua bentuk kebudayaan (budaya pertama dan kedua) seseorang, sesungguhnya ia terkadang membiasakan penghayatan pengalaman-pengalaman dengan rasa kekecewaan ketika ia kehilangan untuk bisa komunikasi dengan salah satu dari keduanya, dan perasaan was-was ketika dating budaya yang baru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dalam mempelajari bahasa asing

      1. kreteria evaluasi diri (self -Evaluation)

sebagaimana telah diketahui bahwa individu-dari sisi psikologis- yang belajar bahasa asing dapat melakukan percepatan belajar bahasa. Hal itu ditegaskan oleh Hoeningswald (hal, 16-20, 1966) bahwa sebagian individu mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi diri. Ia merasa sangat terpacu dalam mempelajari bahasa tertentu. Sementara sebagian invidu lain memandang dirinya tak mampu mempelajari bahasa tertentu. Adakalanya kemampuan invidu dalam merangkai kalimat dengan tepat dan mengucapkannya secara benar dengan strukr yang benar, maka individu seperti ini dari sudut pandang bahasa digolongkan baik dan mampu untuk memahami bahasa yang diajarkannya. Sedangkan individu yang ucapannya kurang baik dan penggunaan strukturnya tidak tepat, maka individu ini dimungkinkan tidak mampu berbicara bahasa asing dengan baik.

Adapun seorang siswa yang mampu membaca materi-materi berat berbahasa asing, sementara dilain waktu ia tidak mampu berbicara dengan bahasa asing, hal ini akan mengurangi pemahamannya terhadap bahasa asing yang ia pelajari, bila dibandingkan dengan siswa yang sering berbicara dengan bahasa asing dan meskipun dalam suatu kesempatan ia terlihat lemah dalam mencari padanan kata, maka sebenarnya siswa seperti ini juga sedang mengevaluasi dirinya. Dan pangkalnya adalah semangat kemajuan dalam belajar dan kesadaran atas ketidakmampuan dirinya dalam menggunakan bahasa asing.

      1. sikap (kesiapan mental) siswa

faktor kedua yang mempengaruhi motivasi dalam mempelajari bahasa asing, adalah sikap siswa. Terkadang seorang siswa merasa terbebani oleh kegiatan-kegiatan belajar bebahasa asing. Baik kegiatan dalam kelas, di laboratorium dan pekerjaan rumah (Jacopovitch, hal. 29-76, 1971).

Anak-anak kecil atau sebagian anak besar yang tingkat kecerdasannya dibawah standar rata-ratatidak melakukan kegiatan-kegiatan ini seperti halnya anak-anak besar atau siswa-siswa yang cerdas.ini semua berpangkal pada sikap siswa dalam mempeljari bahasa asing. Pada era modern ini kebanyakan siswa memandang bahwa pengajaran materi tertentu harus berkaitan dengan semangat siswa, oleh sebab itu sikap siswa dan segala yang berkaitan dengan motivasi belajar adalah hal penting dalam meningkatkan kemampuan siswa terhadap pembelajaran bahasa asing.

Diantara bukti pentingnya sikap siswa dalam mempelajari bahasa asing adalah apa yang telah dilakukan oleh beberapa universitas sekarang ini, yaitu dengan mengikut sertakaan mahasiswa dalam membuat kurikulum bahasa, sehingga kurikulum ini selaras dengan sikap siswa dan yang lebih penting adalah motivasi mereka dalam belajar (Jacopovitch, hal. 29-76, 1971).

Seorang guru bahasa asing yang berpengalaman, akan mengetahui bahwa motivasi siswa dalam mempelajari bahasa asing sangatlah bervariatif dan akan menjadi sulit untuk menanggulangi motivasi ini hanya melalui rekayasa pendidikan.

Dengan demikian patutlah mengetengahkan studi studi Muller dan Harris yaitu untuk meminimalisir jumlah keterlambatan/keterbelakangan pembelajaran bahasa asing dalam masa belajar yang mencapai 20% dimana studi-studi tersebut berdasar pada azas meminimalisir sumber-sumber kesulitan yang sesuai dengan kecenderungan siswa dalam kurikulum pengajaran dengan tanpa meninggalkan tujuan utamanya.

Dua faktor (kreteria evaluasi diri dan sikap siswa) inilah yang sangat berpengaruh terhadap motivasi dalam mempelajari bahasa asing.

Dasar-Dasar Yang Harus Diperhatikan Dalam Pembelajaran Bahasa Asing

Jadi apa yang harus diperhatikan dalam pembelajaran bahasa asing?, berkenaan dengan pertanyaan ini ada daasar-dasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa asing, antara lain:

  1. Tak ada satupun tujuan yang paling cocok untuk diterapkan secara logis dalam pengajaran bahasa asing. Tak ada bukti konkrit bahwa dalam memulai pembelajaran bahasa asing harus sampai pada bahasa komunikasi atau membaca atau bahkan sebaliknya. Sebabnya adalah bervariatifnya kecenderungan dan kebutuhan siswa, serta kesiapannya dalam pembelajaran bahasa asing.

  2. Hendaknya memperjelas tujuan kurikulum pengajaran bahasa asing yang spesifik dengan mempertimbangkan maharah (kemampuan berbahasa)tertentu, yang memungkinkan dapat terrealisasi.

  3. Dalam pengajaran bahasa asing bukan berarti merealisasikan tujuan tertentu saja melainkan juga mewujudkan kemampuan dan kesiapan dalam mempelajarinya.

  4. Khusus mengenai pertanyaan “umur berapa yang cocok untuk memulai belajar bahasa asing?”, adalah permasalahan pelik yang membutuhkan strategi politik, social budaya, filsafat dan psikologis. Dalam konteks psikologis hendaknya tidak hanya berkutat pada faktor neuro psikologis saja tetapi juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang telah disebutkan.

  5. Dalam pembelajaran bahasa asing hendaknya kita selalu menekankan perhatian pada sisi sosio-psikologis

  6. Adanya perbedaan metode pengajaran dalam pembelajaran bahasa asing, karena dipengaruhi oleh bervariatifnya kreatifitas guru dan sejauhmana responsibelitas murid dalam menyikapi pembelajaran tersebut.

About these ads