by: kholid amrullah

Artikel
Apa itu ? Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan, artikel adalah sebagai karya tulis lengkap di majalan atau surat kabar. Dengan definisi seperti itu maka, artikel ini berupa karya tulis umum yang bersifat luas serta bebas. Oleh karena itu, artikel itu bisa berupa opini, esai, atau sekaligus semacam berita. Cuma lazimnya, artikel ini lebih sering pada opini.
Opini itu bisa muncul dari sebuah peristiwa, pemikiran atau ide sang penulis. Oleh sebab itu, salah satu modal yang harus dimiliki oleh seorang penulis adalah ide, pemikiran serta kepekaan melihat sebuah peristiawa. Itulah sesungguhnya modal  utama bagi seorang penulis itu. Ide sangat mahal harganya!.
Nah, sekarang terkait dengan cara memulai menulis. Ada beberapa cara, dengan ara induksi atau deduksi. Bisa dipilih mana yang terpenting dulu atau sebaliknya. Tetapi usahakan, pada paragaraf pertama, tema besar dalam tulisan itu sudah bisa diketahui pembaca, meskipun cuma sedikit. Kemudian, pancing pembaca itu dengan kalimat yang mengundang rasa ingin tahu.

1. Opini
Namanya saja opini, tentu tulisan ini lebih bebas cara menulis dan gaya bahasanya sesuai karakter penulis. Bisa menggunakan gaya bahasa humor, reflektif, kontempaltif, analisis yang ilmiah. Sebab, ruang opini itu dimunculkan oleh media sebagai wahana untuk berdialog bagi orang di luar media. Yang menulis juga beraragam mulai tokoh politik, seniman dosen, hingga mahasiswa dan orang biasa.
Rubrik ini memiliki tempat yang terhormat di media massa.   Sebab, keberadannya bisa sebagai alat ukur sebuah kekutan media dan berita-berita yang dimuat dalam media itu. Semakin banyak yang mengirim opini semakin bagus kualitas dan media tersebut. Maka jangan heran kalau kemudian sulit sekali menembus rubrik ini di media-media massa nasional.
Bagaimana cara menulis opini?. Pada dasarnya, tak jauh dengan tulisan yang lain. Tapi yang perlu diperhatikan, opini harus menyangkut tema-tema yang baru, menarik  dan penting untuk dibahas. Untuk mengukur ini, bisa dilihat dari berita-berita di media. Masalah apa yang lagi in saat ini. Jangan menulis opini dengan tema yang sudah usang.
Soal teknis menulis ?.Jangan terlalu bingung, anggap saja kalian sedang diskusi. Ketika dalam diskusi yang sengit itu anda diminta untuk melakukan bantahan atau mencari solusi. Kalau dalam diskusi menggunakan bahasa oral, tetapi dalam opini menggunakan bahasa tulisan. Soal bagaimana tulisan, usahakan  bahasa mengalir dan disertai dengan ending yang bagus. Jangan mbulet dan diulang-ulang.
Uniknya, belum tentu orang yang nerocos bicaranya otomatis juga bagus tulisannya. Kadangan yang terjadi justru sebaliknya, orang yang memiliki kekuatan bahasa oral, seringkali lemah dalam bahasa tulis. Sebaliknya, ada orang yang cenderung pendiam tapi ramai dalam menulis dan tajam analisanya. Tapi ada juga yang memiliki kedua kemampuan tersebut. Silahkan teliti anda termasuk yang mana.
Tetapi jangan khawatir, dua masalah ini bisa diselesaikan dengan gampang.. Untuk opini yang bersifat ilmiah anggap saja seperti menulis pokok bahasan dalam sebuah makalah. Tapi jangan lupa, karena ini dimuat di media massa maka usahakan bisa difahami semua pembaca. Sebab anda faham belum tentu orang lain faham.
Dan jangan lupa, untuk bisamenulis denganbaik, cara yang paling tepat adalah dengan terus mencoba mengirim tulisan ke media. Selagi tulisan itu belum dimuat, jangan berhenti. Dan kalau sudah dimuat, telitikembali tulisan itu, ada yang di edit, dikurangi, diubah atau tidak. Dari situ maka akan bisa melihat kualitas tulisan anda menurut media tersebut.
Contoh Opini:
Kecaman terhadap agresi militer Israel, tidak hanya dilakukan umat Islam. Warga Yahudi di Israel juga mengecam keras, termasuk umat Nasrani di AS, mengecam  komando Ehud Olmert, perdana menteri Israel itu… ( A Riyadi Amar, mahasiswa UMJ di Jawa Pos 19 Agustus 2006)

2. Esai
Esai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebautkan sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya.  Secara bebas, esai bsia dikatakan sebagai tulisan yang berisi pendapat dan gagasan seseorang tentang sastra, seni dan kebudayaan.
Maka jangan heran, kalau para penulis esai itu biasanya seorang seniman, budayawan, sastrawan, kritikus seni, atau bisa juga politik. Meskipun tidak menutup kemungkinan orang di luar itu juga bisa menulis esai. Tulisan ini syarat dengan kandungan atau bahasan masalah di atas. Tulisan ini biasanya ditulis lebih ringan dan mengalir.
Contoh Esai :
Munculnya puisi modern ala Barat yang gencar dipelopori Chairil Anwar, tidak seluruhnya menghabiskan puisi gaya lama yang telah mengakar di Iandonesia. Paling tidak, kata Sutardji Calzoum Bachri, pesona bunyi pantun masih sering muncul dalam puisi yang ditulis penyair-penyair modern… (D Zawawi Imron, Jawa Pos 27 Agustus 2006)

Feature
Penulisan berita dengan model berkisah/cerita. Ada juga yang mengatakan, feature adalah tulisan khas yang dalam media massa. Feature, biasanya ditulis untuk peristiwa yang tidak harus memiliki nilai berita. Namun, bisa berupa hiburan,  memiliki human interest yang tinggi dan sebagainya. Karena cara menulisnya dengan model berkisah, feature ini lebih detail menggambarkan keadaan dan fakta.
Dengan begitu, tulisan feature harus mampu membuat pembaca terbawa. Kalau feature itu tentang sesuatu yang menyedihkan, maka pembaca bisa menangis. Kalau feature itu tentang kegembiraan, maka pembacapun juga senang, begitu juga kalau pda hal yang lucu, maka pembaca isa tertawa.
Contoh:
Malam itu, suasana Kota Batu sangat tenang. Cuaca sangat cerah, gemerlap bintang dan bulan purnama melengkapi keindahan kota wisata ini. Namun, di tengah ketenangan malam itu, masyarakt digemparkan dengan tragedy yang mengenaskan. Tiga siswa SMPN 2 Kota Batu yang sedang  kemah, tewas tertimpa pohon pinus saat tidur lelap.

Resensi
Resensi berasal dari Bahasa Belanda recensie, Bahasa Inggrisnya review dan dalam Bahasa Latinnya revidera. Artinya mengungkapkan kembali apa yang dilihat, dibaca atau didengar dengan cara tertentu. Jadi resensi bukan sebuah promosi penjualan buku.
Resensi ini memiliki  banyak tujuan, diantaranya:
–  Memberikan informasi dan pemahaman yang   lengkap tentang sebuah buku
–    Mengajak pembaca berpikir merenungkan, serta mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problematika yang muncul dalam buku.
–    Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu layak mendapat sambutan di masyarakat atau tidak
–    dll
Apa saja yang bisa diresensi ?
–    Buku (text book, ilmuah-populer, memoar, biografi, novel, kumpulan cerpen, puisi ) dll
–    Kaset CD, film, sandiwara, teater
–  dll
Srtuktur tulisan resensi
–    Judul resensi
–    Data buku (judul, penulis, penerbit, tebal, harga)
–    Lead pembuka
–    Ulasan
–    Penutup
Menulis judul
–    Judul ringkas tapi menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu
–    Mencerminkan isi resensi
–    Menggunakan kalimat aktif
–    Menghindari kata ulang

Menuli lead resensi
–    Tentang pengarang
contoh : Menyimak judulnya saja, buku yang ditulis Kwik Kia Gie ini sudah menarik….dst
–    Kekhasan pengarang
contoh: Ali Sadikin kembali menampilkan sosoknya yang istimewa. Keistimewaan itu kian jelas pada tulisan dalam buku barunya…..dst.
–    Keunikan buku
contoh : Luar biasa !. Dengan format 23×15 cm dan tebal 1.500 halamn buku ini tercatat sebagai buku paling tebal untuk jenis karangan non fiksi karangan anak Indonesia.
–    Tema Buku
contoh : Kualitas SDM selalu menjadi sorotan banyak pihak. SDM yang berkualitas akan membawa dampat yang positif terhaap kemajuan dan sebaliknya SDM yang rendah….. (resensi buku berjudul Pedoman Mengelola SDM)
–    Kelamahan Buku
contoh : Membahas masalah teknik seyogyanya dilengakapi dengan contoh, bukan hanya membahas teori ….
–    Kesan Buku
contoh : Wow, baru kali ini saya membaca buku sejarah Islam dalam dikemas novel yang sangat menarik. Meeski ditulis seorang Nasrani, tapi isinya sangat fair…
–    dll

Mengakhiri resensi
–    Buat ending dengan memprediksi buku yang diresensi itu, sebetulnya layak untuk dibaca oleh siapa, dan kenapa perlu dibaca.
–    Baca dan edit kembali kata-kata dan kalimat yang hanya berfungsi sebagai embel-embel tapi sebenarnya malah membebani isi resensi.
–    Potong kalimat yang tak jelas dan terlalu panjang menjadi kalimat yang efisien.

Bagaimana agar Tulisan  bisa dimuat di media ?
Ini pertanyaan yang kerap kali muncul dari para penulis dan peresensi. Untuk bisa menembus ke sebuah media ini angat terkait dengan kebijakan atau selera media itu. Belum tentu buku yang baik menurut anda baik menurut media. Untuk itu sebelum membuat resensi harus ditentukan dulu, kira-kira ke mana opini, esai dan resensi itu akan dikirim. Ke Jawa Pos, Malang Post, Koran Pendidikan, Buletin Kampus, Surya, Kompas Koran Pendidikan, Buletin Kampus atau bulletin Jumat.
Selanjutnya, kenali karakter media itu, apakah kira-kira mau memuat opini, esai dan resensi buku yang akan anda resensi. Tindakan ini perlu dilakukan agar kegiatan meresensi yang dilakukan tidak sia-sia. Sebab, meskipun tulisan itu sempurna, tapi kalau kebijakan media tidak tertarik dengan isinya maka juga tidak akan bia dimuat. Waalhu a’alm bishowab

***

About these ads